Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu.
Ting!
"Di Izzi Pizza saja Ya Dik,"
"Baik Kak."
Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama.
Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengeluarkannya dari tas. Alia menahan senyumnya. Dimulailah pembicaraan di antara mereka. Kini yang lebih banyak berbicara adalah teman Kak Bayu. Banyak yang ia tanyakan. Diantaranya, "Kesederhanaan itu apa sih?". Sejenak Alia merasa terkejut dengan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan.
"Kesederhanaan itu.. Menurut saya hidup dengan rasa bersyukur pada Allah atas apa yang sudah ia miliki tanpa meminta yang macam-macam lagi. Walaupun Allah menakdirkan kita untuk hidup sederhana, tetapi kalau ada rasa iman di hati dan syukur atas kehidupan yang sudah Allah berikan itu akan menenteramkan hati kita. Tetapi sederhana itu nggak melulu soal harta yang sedikit. Karena menurut saya orang kaya tetapi hidupnya sederhana, itu juga kesederhanaan karena menunjukkan dirinya yang rendah hati dan tidak memperlihatkan kekayaannya. Yang jelas kita harus selalu bersyukur juga kita tetap harus berusaha dalam hidup ini."
Pertanyaan lainnya. "Menurutmu poligami itu apa sih?"
"Wow! Fiuh!" Alia membatin sendiri. "Gorgeous question!" Alia langsung memutar otaknya dengan cepat untuk menemukan jawaban yang menurutnya tepat.
"Poligami tentu saja tidak dilarang. Bahkan di dalam al-Quran surat an-nisa ayat 3 yang membenarkan poligami. Akan tetapi, poligami ini menyangkut kemampuan seorang lelaki untuk bisa adil dengan istri-istrinya. Yang saya tahu untuk satu istri saja sepertinya sudah susah untuk adil. Tetapi kalau dia memang mampu Alhamdulillah.Tetapi kalau saya sendiri merasa tidak mampu untuk memiliki suami yang ingin berpoligami. Ya..dimadu itu..gimana ya.."
Kak Bayu dan temannya hanya tertawa kecil. Dari semua pertanyaan Alia merasa mampu menjawabnya dengan baik. Tak lupa hatinya terus berzikir memohon pertolongan Allah. Dalam dialog ini, teman Kak Bayu sempat menyelipkan canda di dalamnya dan menceritakan pengalaman dirinya. Membuat suasana pun tidak menjadi tegang. Kami berbicara sambil menyantap hidangan yang tersedia.
"Kesederhanaan itu.. Menurut saya hidup dengan rasa bersyukur pada Allah atas apa yang sudah ia miliki tanpa meminta yang macam-macam lagi. Walaupun Allah menakdirkan kita untuk hidup sederhana, tetapi kalau ada rasa iman di hati dan syukur atas kehidupan yang sudah Allah berikan itu akan menenteramkan hati kita. Tetapi sederhana itu nggak melulu soal harta yang sedikit. Karena menurut saya orang kaya tetapi hidupnya sederhana, itu juga kesederhanaan karena menunjukkan dirinya yang rendah hati dan tidak memperlihatkan kekayaannya. Yang jelas kita harus selalu bersyukur juga kita tetap harus berusaha dalam hidup ini."
Pertanyaan lainnya. "Menurutmu poligami itu apa sih?"
"Wow! Fiuh!" Alia membatin sendiri. "Gorgeous question!" Alia langsung memutar otaknya dengan cepat untuk menemukan jawaban yang menurutnya tepat.
"Poligami tentu saja tidak dilarang. Bahkan di dalam al-Quran surat an-nisa ayat 3 yang membenarkan poligami. Akan tetapi, poligami ini menyangkut kemampuan seorang lelaki untuk bisa adil dengan istri-istrinya. Yang saya tahu untuk satu istri saja sepertinya sudah susah untuk adil. Tetapi kalau dia memang mampu Alhamdulillah.Tetapi kalau saya sendiri merasa tidak mampu untuk memiliki suami yang ingin berpoligami. Ya..dimadu itu..gimana ya.."
Kak Bayu dan temannya hanya tertawa kecil. Dari semua pertanyaan Alia merasa mampu menjawabnya dengan baik. Tak lupa hatinya terus berzikir memohon pertolongan Allah. Dalam dialog ini, teman Kak Bayu sempat menyelipkan canda di dalamnya dan menceritakan pengalaman dirinya. Membuat suasana pun tidak menjadi tegang. Kami berbicara sambil menyantap hidangan yang tersedia.
Dalam pertemuan kedua ini, Alia mengakui tentang Ayahnya. Kak Bayu terkejut, karena ia tidak menyangka bahwa Alia adalah anak dari nasabah tempat ia bekerja. Teman kak Bayu pun ikut terkejut. Ternyata temannya pun mengenali Ayah Alia. Mereka mengenal sosok Ayah Alia sebagai orang yang hebat di bidang pendidikan. Alia menceritakan mengenai pertemuan pertama mereka dimana Ayah dan Ibunya sebenarnya ikut menemaninya. Kak Bayu terlihat terkejut dan malu. Kak Bayu bertanya kabar Ayah dan Ibu.
Adik Alia yang diam-diam sibuk merekam sesekali ikut menimpali pembicaraan mereka. Dia menjadi narasumber mengenai diri Alia. Saat dia tidak berbicara, telefon genggamnya mulai beroperasi lagi untuk merekam. Akhirnya, menjelang satu jam pembicaraan, adik Alia berbisik, "kasih tau aja ya?" Alia menggeleng tanda menolak idenya. Dia berbisik lagi, akhirnya Alia berubah pikiran. "Ini mungkin akan menjadi hiburan,"pikir Alia. Alia mengangguk.
"Aku dah rekam dong!" Adik Alia tertawa-tawa sambil memperlihatkan telefon genggamnya kepada mereka Kak Bayu menutupi wajahnya sambil tersenyum malu. Teman Kak Bayu pun ikut tertawa setelah mengetahui itu.
"Hahaha.. bagus. Bagus! Lanjutkan!"
"Lanjutin ya!" mereka semua tertawa, sementara Kak Bayu hanya menutupi wajahnya sambil tersenyum. Adik Alia pun menyalakan lagi video dari telefon genggamnya dan merekam Kak Bayu yang kini sadar bahwa ada paparazzi selama pembicaraan tersebut.
Sekitar satu setengah jam kemudian, teman Kak Bayu pamit karena ada urusan. Maka tinggallah mereka bertiga. Tepat setelah teman Kak Bayu pergi azan berkumandang. Kak Bayu mengajak untuk shalat.
"Shalat dulu yuk. Nanti, mau dilanjutin atau gimana nih?" Dia bertanya. Alia bingung menjawabnya.
"Atau ada urusan?"
Alia pun balik bertanya, "mungkin Kak Bayu yang ada urusan?"
Dia hanya tertawa kecil. "Ok.. Kalau gitu.. Kita shalat aja dulu. Nanti liat lagi gimana. Atau mau langsung pulang aja? Gimana?"
Akhirnya Alia memutuskan untuk shalat dulu di pasar itu. Dan untuk selanjutnya terserah, apakah mau dilanjutkan atau tidak. Maka mereka bertiga pun berjalan menuju masjid terdekat. Alia. Setelah selesai shalat, Kak Bayu sudah duduk menunggu mereka.
"Maaf, lama ya Kak?"
"Nggak kok." Dia tersenyum manis. Aduh! Syaithan datang. Alia segera memalingkan muka.
Mereka berjalan perlahan menuju ke tengah pasar. Selama berjalan, Kak Bayu bertanya beberapa hal. Akhirnya mereka bertiga berhenti. dan mendiskusikan apakah mau dilanjutkan atau disudahi saja untuk hari itu. Dalam hati Alia, sebenarnya ia ingin melanjutkan, banyak hal yang ia ingin ketahui. Alia memusatkan perhatiannya pada pertanyaan-pertanyaan yang harus ia ingat jika memang pertemuannya dilanjutkan.
"Ok, kita ke situ aja yuk." Kak Bayu mengajak untuk melanjutkan.
Mereka duduk di sebuah cafe kecil memesan minuman ringan. Mereka berbicara hal-hal ringan. Kali ini Alia yang banyak bertanya. Sejak setelah shalat selesai ia mengkonsentrasikan pikirannya pada pertanyaan-pertanyaan yang akan diajukan. Alia berhati-hati mengeluarkan setiap kalimatnya, karena Kak Bayu jauh lebih tua, Alia khawatir ada kata-katanya yang menyinggung perasaan Kak Bayu.
Ada hal lucu dalam sesi kedua ini. Alia melihat ada sesuatu yang menempel pada wajah Kak Bayu di bagian hidungnya. Tetapi Alia hanya diam berpura-pura tidak melihatnya. Pembicaraan tetap berlanjut. Setiap kali mata Alia melihat ke wajah Kak Bayu, mata Alia tertuju pada bagian hidung. Hingga beberapa menit kemudian, ketika Alia menoleh lagi ke arah Kak Bayu, benda itupun hilang. Alia berusaha menahan senyum. Tentu saja jika hal ini disadari olehnya akan membuat Kak Bayu malu. Pembicaraan pun berlanjut. Alia berusaha tidak mengingat atas apa yang ia lihat. Dan satu jam kemudian Alia dan adiknya pamitan.
Sesampainya di rumah Adik Alia dengan antusias menceritakan pembicaraan mereka dan penilaiannya terhadap ekspresi-ekspresi Kak Bayu.
"Kak Bayu kayaknya suka Bu!"
"Ih apaan sih?" Alia sewot tapi hatinya bahagia mendengar penilaian Adiknya.
Ternyata Adik Alia menyadari benda aneh di wajah Kak Bayu, dia pun menceritakannnya, membuat yang mendengarkan tertawa.
"Hush! Heh! Masak itu diketawain!" Ibu mengingatkan. Tetapi tak bisa dipungkiri wajah Ibu tampak jelas menahan tawa.
Sejak itulah beberapa kali Alia dan Kak Bayu bersms ria. Akhirnya Ulang tahun Alia tiba. Kak Bayu mengucapkannya dengan menyelipkan kalimat do'a. Hati Alia sangat bahagia. Malamnya Alia mendapat hadiah dari Ayah dan Ibu yang tidak disangka-sangka.Alia sangat bahagia.
Alia berkomunikasi dengan Kak Bayu hanya pada jam sepuluh malam ke atas. Karena Kak Bayu sangat sibuk. Jika siang hari kemungkinan tidak dibalas olehnya adalah 100%. Alia hanya menanyakan apa yang patut ditanya. Alia takut terlalu banyak berkomunikasi hingga menimbulkan mudharatnya.
Setelah kira-kira 1 bulan, Alia mulai merasakan mudharatnya. Karena ia menyadari telah masuk syaithan di antara hubungannya dengan Kak Bayu. Ia merasa ingin berkomunikasi setiap hari. Padahal ia menyadari tidak seharusnya ia memiliki perasaan khusus sebelum dinyatakan Ijab Qabul di antara mereka.
"Tidak seharusnya seperti ini. Jika terus-terusan seperti ini semua ini tidak akan berkah."
Hampir setiap shalat Alia memohon petunjuk pada Allah apakah memang Kak Bayu orang yang tepat untuk mengimaminya. Alia juga beberapa kali shalat istikharah untuk menguatkan keputusan atas pilihannya. Alia tak ingin memilih karena berdasarkan nafsu. Alia ingin segalanya diredhoi Allah.
Respon Kak Bayu sangat baik. Tampaknya ia memang mau melanjutkan, begitulah penilaian Alia sekeluarga. Tetapi Kak Bayu masih belum menunjukkan niatnya untuk lanjut ke stage selanjutnya, yakni khitbah.
Khitbah adalah langkah yang diambil jika seorang lelaki memang berniat untuk menjadikan seorang wanita untuk dijadikan istri. Khitbah yakni meminang, yaitu melamar untuk ia nikahi. Jika orang yang dipinang menerima pinangannya maka telah sah ia tidak boleh dimasuki oleh pihak ketiga. Dalam fase ta'aruf seseorang masih dinyatakan bebas untuk memilih pendamping yang inginkan jika seandainya ada beberapa orang yang sedang berkenalan dengannya. Tetapi, khitbah pun bukan berarti lelaki dan wanita itu terikat seperti kebanyakan orang fikirkan. Salah satu pihak masih boleh memutuskan untuk tidak meneruskan ke jenjang pernikahan. Hanya saja orang yang sudah dipinang tidak boleh dimasuki oleh pihak lainnya. Rasulullah SAW sudah melarang dalam haditsnya;
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya." H.R Bukhari no.5142 dan Muslim no.1412 dari Ibnu Umar R.A
Ayah mulai berfikir untuk mengadakan pertemuan dengan Kak Bayu. Ayah ingin agar segalanya mulai serius dan pembicaraan mengarah ke pernikahan. Alia mengirimkan message pada Kak Bayu mengenai keinginan Ayahnya untuk bertemu, dan Kak Bayu menyetujuinya. Mereka menyepakati hari dan tempat pertemuannya.
Setelah kira-kira 1 bulan, Alia mulai merasakan mudharatnya. Karena ia menyadari telah masuk syaithan di antara hubungannya dengan Kak Bayu. Ia merasa ingin berkomunikasi setiap hari. Padahal ia menyadari tidak seharusnya ia memiliki perasaan khusus sebelum dinyatakan Ijab Qabul di antara mereka.
"Tidak seharusnya seperti ini. Jika terus-terusan seperti ini semua ini tidak akan berkah."
Hampir setiap shalat Alia memohon petunjuk pada Allah apakah memang Kak Bayu orang yang tepat untuk mengimaminya. Alia juga beberapa kali shalat istikharah untuk menguatkan keputusan atas pilihannya. Alia tak ingin memilih karena berdasarkan nafsu. Alia ingin segalanya diredhoi Allah.
Respon Kak Bayu sangat baik. Tampaknya ia memang mau melanjutkan, begitulah penilaian Alia sekeluarga. Tetapi Kak Bayu masih belum menunjukkan niatnya untuk lanjut ke stage selanjutnya, yakni khitbah.
Khitbah adalah langkah yang diambil jika seorang lelaki memang berniat untuk menjadikan seorang wanita untuk dijadikan istri. Khitbah yakni meminang, yaitu melamar untuk ia nikahi. Jika orang yang dipinang menerima pinangannya maka telah sah ia tidak boleh dimasuki oleh pihak ketiga. Dalam fase ta'aruf seseorang masih dinyatakan bebas untuk memilih pendamping yang inginkan jika seandainya ada beberapa orang yang sedang berkenalan dengannya. Tetapi, khitbah pun bukan berarti lelaki dan wanita itu terikat seperti kebanyakan orang fikirkan. Salah satu pihak masih boleh memutuskan untuk tidak meneruskan ke jenjang pernikahan. Hanya saja orang yang sudah dipinang tidak boleh dimasuki oleh pihak lainnya. Rasulullah SAW sudah melarang dalam haditsnya;
“Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam melarang seseorang membeli barang yang sedang ditawar (untuk dibeli) oleh saudaranya, dan melarang seseorang meminang wanita yang telah dipinang sampai orang yang meminangnya itu meninggalkannya atau mengizinkannya." H.R Bukhari no.5142 dan Muslim no.1412 dari Ibnu Umar R.A
Ayah mulai berfikir untuk mengadakan pertemuan dengan Kak Bayu. Ayah ingin agar segalanya mulai serius dan pembicaraan mengarah ke pernikahan. Alia mengirimkan message pada Kak Bayu mengenai keinginan Ayahnya untuk bertemu, dan Kak Bayu menyetujuinya. Mereka menyepakati hari dan tempat pertemuannya.
Sebelum hari H ternyata Kak Bayu mengabarkan dia tidak bisa datang sesuai kesepakatan. Akhirnya mereka menyepakati untuk merubah hari pertemuan walau sedikit kecewa Alia menerimanya.
Hari H pun tiba. Alia sekeluarga ikut datang dalam pertemuan kali ini. Mereka akan bertemu di sebuah Rumah makan. Kami menunggu kedatangan Kak Bayu. Kak Bayu tidak mengetahui bahwa Alia dan keluarga ikut dalam pertemuan kali ini.
"Dia pasti kaget banget deh!" celetukan adik Alia membuat semuanya tertawa.
Setengah jam kemudian, tidak ada tanda-tanda dia akan datang. Mereka semua tetap menunggu, sementara Alia mulai gelisah, dia menanyakan lokasi Kak Bayu.
Ting!
"Kakak masih di tol nih."
Alia pun mengabarkannya pada orang tuanya.
"Oh.. palingan 15 menit kalau nggak macet dia sampai." Ayah menenangkan mereka semua.
Kami pun menunggu. Setengah jam berlalu. Alia bertanya lagi. Kali ini Kak Bayu lama membalasnya.
Ting!
"Maaf Dik. Mobil kakak mogok. tunggu ya."
"Mogok dimana Kak?"
" Masih di daerah Tangerang Dik."
Alia pun menyampaikan kabar Kak Bayu lagi pada Ayah Ibunya. Satu jam sudah pun berlalu. Ibu tampak mulai tidak sabar. Alia sangat gelisah. Ayah dan Adik-adiknya kelihatan tenang tapi Alia bisa menilai mereka tampak mulai jenuh. Akhirnya Alia bertanya lagi. Kak Bayu pun menjelaskan keadaannya.
10 menit berlalu.
"Kamu telfon aja deh Kak Bayunya." Ayah menyarankan Alia. Dada Alia mulai sesak. Mereka sudah menunggu 1 jam lebih disini. Sungguh hal yang memalukan bagi Alia. Entah kenapa, Alia merasa malu dengan orang tuanya.
"Kak Bayu, tidakkah ia ingat untuk menghubungi Ayahku langsung? Sekedar mengabari.." Alia membatin. Perasaan Alia mulai tidak enak. Ia merasa Kak Bayu tidak menghargai orang tuanya. Alia mulai tampak emosi. Alia yakin Ayah dan Ibu pun sebenarnya menahan emosi demi anaknya. Ayah dan Ibu menenangkan Alia.
"Telfon aja, tanya lagi aja.." saran Ayah dengan lembut.
Alia keluar dari Rumah makan dan mencoba menelfon Kak Bayu. Tetapi nihil. Telefonnya tidak diangkat sama sekali. Sekali lagi Alia mencoba menghubunginya. Nihil!
Alia masuk ke dalam. Perasaanya campur aduk. Antara marah, kesal dan ingin menangis. Alia menahan ekspresinya agar tidak terlihat seperti orang mau menangis.Alia tidak kesal pada Kak Bayu karena mobilnya yang tiba-tiba mogok. Tetapi yang Alia sesalkan hanyalah, bahwa Kak Bayu sedikitpun tidak ingat pada orang tua Alia.
"Apa yang Kak Bayu pikirkan? Kenapa dia seolah tidak menghargai orang tuaku? Padahal kali ini pertemuannya bukanlah antara aku dan dia. Tapi dengan orang tuaku!" Alia ngomel dalam hati.
Alia sekali lagi mencoba menghubunginya. Tetap nihil. Akhirnya Alia menanyakan lagi lewat BBM. Beberapa menit kemudian Kak Bayu menjawabnya,
"Maaf banget Dik. Tadi Kk melihat tukangnya perbaiki mobil. Jadi nggak denger telfonnya."
"Oh.. Nggak apa-apa Kak. Gimana sekarang mobilnya?"
"Iya sedang diperbaiki. Mudah-mudahan cepat kelar."
"Iya kak. Mudah-mudahan cepat kelar." Alia pun ikut mendoakan. Tetapi hatinya masih kesal. Alia menyampaikan hal itu pada orang tuanya. Akhirnya Ayah memesan makanan. Mereka sengaja tidak memesan karena takut makanannya kedinginan menunggu Kak Bayu. Ayah Alia berkesimpulan bahwa pertemuan kali ini mungkin batal.
"Tapi mudah-mudah dia bisa datanglah.." ucap ayah Alia.
Ting!
Alia membuka bbmnya. Isi bbm yang membuat Alia sangat-sangat kecewa untuk hari itu. Hidangan tiba, Alia pun memakan semuanya dengan lahap seolah tidak ada kejadian apa-apa. Karena itu adalah hari terburuk pertama kali yang ia alami sepanjang perkenalannya dengan Kak Bayu.
Alia membuka bbmnya. Isi bbm yang membuat Alia sangat-sangat kecewa untuk hari itu. Hidangan tiba, Alia pun memakan semuanya dengan lahap seolah tidak ada kejadian apa-apa. Karena itu adalah hari terburuk pertama kali yang ia alami sepanjang perkenalannya dengan Kak Bayu.
(continue)
Kasian ya sama alia
ReplyDeleteTerima kasih sudah membaca cerbung ini.. salam kenal
DeleteJika penasaran dengan kelanjutan kisah Alia, silahkan baca https://ifathzara.blogspot.com/2015/10/sang-kandidat.html
DeleteTerima kasih sangat diterima apabila ada kritik dan sarannya.
stlh yg 2015 ini masih ada sambungannya kah ??
DeleteAda kak. Boleh dibaca ke https://ifathzara.blogspot.com/2015/10/sang-kandidat.html
Deleteoke kak
ReplyDelete