Skip to main content

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..

 

Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.

 

“Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.

 

Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”

 

Sungguh aku terkejut bukan main.

 

“Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”

 

“mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”

 

meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.

 

“udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.

 

Duh , bener aja aku menangis. Kami tetap laksanakan shalat bersama tapi aku tidak bisa khusyuk sama sekali. Sepanjang shalat aku menangis dan air mataku tidak bisa berhenti meski aku berusaha. Saat tahiyat air mataku malah makin deras dan sesunggukan yang hebat. Selesai salam aku langsung lari keluar. Dan duduk di teras rumah. Mungkin ada 15 menit aku hanya menangis. Aku berusaha berfikir positif tapi tangisku tak mau berhenti.

 

Aku tau suamiku sedang kesulitan dengan pekerjaannya. Tapi aku hanya tidak faham, apakah memuji istri dengan dua kalimat tersebut adalah sesuatu yang sangat sulit saat sedang stress dengan pekerjaan? Apakah semua suami seperti itu?

 

Toloong aku butuh jawaban.

 Ingin aku berfikir positif, “oh ya dia sedang sibuk malah aku ganggu dengan hal nggak berguna.” Tapi terselip fikiran lain, “berarti aku ini pengganggu aja saat dia sedang stress dengan pekerjaannnya.”

Muncul lagi pikiran lain, “apa dia udah nggak cinta?” kenapa hal ini jadi ikut terfikir? Karena kalau aku sedang stress dengan anak-anakku, aku berusaha untuk tidak melibatkan suamiku supaya dia nggak ikut stress. Dan ke suami tetap berusaha lemah lembut. Nggak menjadikan dia tempat pelampiasanku perihal anak-anakku yang selalu bikin aku ngurut dada. Tapi kok dia.. seperti itu reaksinya?

padahal aku menggoda dia karena ingin lihat dia tersenyum supaya bantu dia meringankan stressnya. tidak kusangka dia menanggapi dengan negatif. 

 

Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...