"Ada yang mau taaruf sama kamu."
Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya.
"Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon."
Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias.
"Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. "
Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak pernah ia sangka ternyata dalam waktu dekat dia akan diperkenalkan pada seorang lelaki untuk dijadikan calon suami. Kalau bukan calon suami siapa lagi? Yang jelas Alia tahu taaruf tentu saja tujuannya sangat jelas, yaitu saling mengenal untuk dijadikan pasangan hidup.
Alia tak banyak bertanya mengenai calon taarufannya. Tetapi Ibu menyampaikan padanya dengan senang hati mengenai diri orang itu. Aku sangat tertarik dengan deskripsi Ibu mengenai dirinya. Tampaknya Ibu pun sudah jatuh cinta dengan orang ini, meskipun Alia dan Ibunya sama-sama belum tau wujudnya seperti apa.
Ibu menambahkan, "Dia nggak tau kalau kamu anak Ayah."
"Iya?" Alia tertawa.
"Nanti saat pertemuan pertama, jangan beritahu dulu ya siapa Ayah."
"Kalau dia nanya gimana?"
"Ya nggak perlu jawab nama kan?"
"Bisa sih..Mudah-mudahan sih dia nggak nanya ," Alia tersenyum geli.
Suatu hari Pak Ari mengirimkan foto orang itu pada Ayah Alia lewat blackberry messenger. Ternyata Ayah memiliki kontak blackberry messenger orang tersebut. Dia memasang foto yang sama dengan yang Pak Ari kirimkan. Lumayan, begitu yang terlintas di fikiran Alia. Tetapi menurutnya tampaknya sedikit berbeda dengan apa yang Ibu deskripsikan mengenai diri calon taarufannya itu. Orang itu sedikit berbeda dengan apa yang Alia bayangkan setelah pendeskripsian Ibu. "Mudah-mudahan nanti saat pertemuan aku dapat mengenalinya." Pikir Alia.
Seminggu sebelum pertemuan Alia mengirimkan CV melalui pihak ketiga. Calon taarufan Alia pun mengirim CVnya pada pihak ketiga. Isi CV mereka berdua hampir sama, singkat, padat dan tidak bertele-tele dalam menggambarkan diri masing-masing. Karena Alia pikir hal-hal lain yang menyangkut kepribadian seperti apa,hobi dll, bisa diketahui lewat orang-orang sekitarnya atau ketika berkomunikasi langsung dengannya.
Seminggu berlalu dan hari H telah tiba. Tak hanya Alia yang berkeringat dingin menanti waktu untuk bertemu, tampaknya Ayah Ibu pun nervous. Alia dan keluarga bersama-sama menuju ke tempat pertemuan. Sebenarnya yang akan bertemu hanyalah Alia dan adik perempuannya untuk menemani dan menghindari dari berdua-duaan. Ayah Ibu hanya ikut mengantarkan hingga ke tempat pertemuan, dan nanti saat pertemuan Ayah ibu akan menunggu di tempat lain.
Selama perjalanan mereka sekeluarga menuju ke sana, Ayah mengingatkan Alia untuk berdoa dan berzikir agar Allah menjadi penolong dan segala kalimat yang keluar darinya tersampaikan dengan baik dan agar pertemuan mereka lancar. Selama perjalanan, Alia hanya diam dan melaksanakan apa yang Ayah katakan.
"Nanti dia sms kamu tu. Siap-siap aja." Ayah mengingatkan. Alia terus menggenggam erat telfon genggamnya. Setelah posisi mereka hampir dekat dengan tempat pertemuan, Orang itu mengirimkan pesan singkat pada Alia sambil mengenalkan dirinya.
"Assalamualaikum Dik. Saya Bayu. Apa Kabar? Adik sudah dimana?"
Itu sms pertamanya. Jantung Alia serasa mau copot. Senang. Itulah gambaran perasaan Alia saat itu. Alia pun melaporkan sms itu kepada keluarganya. Segera ia balas setelah laporan.
"Waalaikumsalam, Saya sudah dekat Kak."
Kakak? Langsung saja Alia menyebutnya Kakak, karena dia menyebut Alia "Adik". Sebenarnya itu sudah kedua kalinya Alia disebut dengan sebutan "adik" oleh seseorang yang asing. Yang pertama, Dia adalah seorang yang alia tidak pernah kenali, dan Orang itu memperkenalkan dirinya dan tertarik untuk menjadikan Alia sebagai istrinya. Tetapi, saat itu Alia merasa masih sangat kecil. Umurnya masih 20 tahun. Baru saja akan beranjak dewasa. Alia pun tidak tertarik sama sekali dengan orang ini. Alia justru merasa geli saat disebut dengan sebutan "Adik" olehnya. Lalu untuk yang kedua ini, Alia langsung suka dengan sebutan "adik", entah kenapa. Alia tidak tahu apakah Allah yang menggerakkan hatinya ataukah setan yang membisikinya.
Mereka pun sampai di area parkir tempat pertemuan. Alia pun sms Kak Bayu lagi, "Kak, dimana tempat pertemuannya?"
"Ting,"
Kak Bayu pun membalas, " Terserah Adik saja.."
"Lha.. Aku sendiri tidak tahu dimana tempat yang tepat untuk bertemu." Oceh Alia. Dia pun bertanya pada Ibu dan Ayah mengenai tempat yang tepat untuk bertemu.
"Terserah dia aja. Kan dia dah sampai duluan tu. Biarkan aja dia yang mencari."
Alia pun sms padanya, " Terserah Kakak saja. Saya kurang tahu Kak."
"Ting"
Beberapa menit kemudian, hp Alia berbunyi lagi.
"Di Restaurant bla bla bla saja ya?"
"Baiklah Kak."
Alia pun segera mencari restaurant yang dimaksud bersama dengan adik perempuannya. Alia melihat update bbmnya lewat Blackberry Ayah. Kak Bayu menukar Profile Picturenya dengan gambar tempat kami bertemu .Alia pun segera berpisah dengan orang tuanya setelah semakin dekat dengan tempat pertemuan. Setelah sampai di depan restauran, degup jantung Alia berdetak kencang. Alia pun berjalan masuk. Matanya berkeliling mencari Kak Bayu. Alia tidak dapat melihatnya. Setelah beberapa menit Alia melihatnya! Ternyata Kak Bayu duduk di sudut tersembunyi dari retaurant itu. Sekilas alia meliriknya, dia pun langsung dapat mengenalinya. Matanya yang khas, sesuai dengan yang di foto. Hanya fisiknya saja yang berbeda dengan foto.
Begitu melihat Alia mendekat Kak Bayu dan temannya pun berdiri mempersilakan Alia duduk. Alia pun duduk. Alia melihat wajahnya sangat ramah dengan senyum. Kelihatan gentle dan baik. Itu kesan pertama yang ia dapatkan. Situasi agak sedikit aneh. Alia merasa kikuk untuk mengeluarkan kata-kata. Kak Bayulah yang memulai pembicaraan. Dimulailah pembicaraan diantara mereka.
Dialog diantara mereka pun mengalir begitu saja. Kak Bayu yang banyak bertanya di permulaan. Hal-hal umum yang banyak dibicarakan, seperti hobi, rutinitas sehari-hari, jenis buku apa yang suka dibaca, dan lain-lain. Setiap pertanyaan yang Kak Bayu tanyakan akan ditanya kembali oleh Alia. Sesekali dia melontarkan lelucon. Sesekali adik Alia yang ikut melontarkan lelucon. Alia tak bisa memberikan lelucon, karena jantungnya benar-benar berdegup kencang dan otaknya seperti blank. Sesekali ada jeda yang membuat suasana kembali kikuk. Setiap kali suasana mulai kikuk, dia mengembalikan keadaan seperti semula dengan mengatakan, "ada yang mau ditanyakan nggak?". Setiap kali pertanyaan itu muncul Alia. hanya tersenyum menggeleng, sebenarnya otak Alia sedang berpikir keras, "apa yang harus kutanyakan?" Tetapi alia telah menyiapkan diri untuk tetap tidak banyak berbicara dan tidak banyak bertanya. Biarlah Kak. bayu yang banyak bertanya dan banyak menceritakan dirinya. Karena menurut Alia itu lebih baik.
Kak Bayu bertanya mengenai panggilan apa yang tepat untuk Alia . Alia memilih panggilan pendek yang biasanya hanya digunakan oleh keluarga besarnya.
Pertemuan mereka diakhiri dengan ajakan Kak Bayu ke toko buku terdekat. Alia pun menerima ajakannya. Karena Alia ingin sekalian mencari buku terbaru yang sedang terkenal. Adiknya pun setuju. ketika sampai di toko buku, mereka berempat pun berpencar mencari buku yang diinginkan. Akan tetapi alia tak bisa sepenuhnya konsentrasi dalam mencari buku itu. Karena sesekali mata Alia berkeliling mencari keberadaanya, dan melirik dia. Alia melihat dia dari kejauhan. Dia asik mengobrol dengan temannya sambil membolak-balikkan lembar demi lembar halaman buku yang Kak Bayu pegang. Dia tampak sangat gentle. Bisa dikatakan Alia langsung jatuh hati dengan orang ini. Karena rasanya orang ini sudah masuk paket lengkap suami idamannya. Pengetahuan agamanya yang lebih, baik dan lembut, humoris dan bisa membuatnya nyaman ketika berbicara dengannya, dan tampaknya dia memiliki jiwa pemimpin jika dilihat dari CV nya dimana dia banyak memimpin organisasi-organisasi di sekolahnya, plus gagah. Hehhe.. Tentunya hal ini pasti masuk kriteria semua perempuan manapun. Walau sebenarnya bagi Alia itu tidaklah penting. Asal enak dipandang sudah cukup baginya.
Azan maghrib pun tiba, Alia dan adiknya sengaja menunggu reaksi Kak Bayu ketika azan telah terdengar. Alia menunggu apakah Kak Bayu akan mengajaknya untuk shalat atau justru meneruskan pencarian buku yang tampaknya belum ia temukan. Alhamdulillah setelah beberapa menit azan selesai terdengar, alia melihat matanya mencari Berkeliling, dan dia pun mendekat dan mengajak untuk shalat. Disitu jugalah Alia berpisah pada hari itu. Sebelum berpisah orang itu mengingatkan Alia untuk memberikan alamat fb dan meminta foto-foto Alia lewat adik Alia sambil tersenyum seperti menggoda. Alia hanya tersenyum geli, karena tingkah dan raut wajahnya ditambah orang ini tidak langsung meminta pada Alia. dan dia mengatakan pada Alia untuk menghubunginya bila sudah muncul pertanyaan dari Alia. Alia hanya mengiyakan, alia tidak menjawab balik. Setelah berpisah barulah ia teringat, seharusnya ia membalas permintaanya tadi, bahwa dia pun boleh menghubungi Alia jika ada yang ingin ditanyakan. Alia menyesal...
(bersambung)
Comments
Post a Comment