Setelah beberapa hari sejak pertemuan, belum ada kabar dari Kak Bayu. Alia mulai khawatir apakah responnya terhadap Kak Bayu sedikit pasif saat pertemuan. Alia mulai berfikir sendiri "apakah dia mengira aku tak tertarik padanya? Atau karena responku yang sedikit pasif itu membuat dia tidak percaya diri untuk menghubungiku. Atau mungkin dia yang tidak tertarik untuk melanjutkan?" Entah kenapa pikiran-pikiran ini terbersit di kepala Alia
“Astaghfirullah…” Alia bergumam sendiri. “kenapa jadi mikirin ini terus menerus ya?” Alia kembali beristighfar menghalau pikiran-pikirannya tadi. Alia sudah bertekad untuk tidak membiarkan waktunya kosong hanya untuk memikirkan Kak Bayu. Baiklah.. sejujurnya, Alia menunggu sms darinya.
Dua minggu berlalu tanpa ada kabar dari Kak Bayu. Pikiran Alia semakin tidak menentu. Tetapi Alia berusaha menenangkan diri. Padahal sekarang Alia sedang dalam keadaan kritis. Seharusnya Alia mengkonsentrasikan diri menyelesaikan skripsi, tetapi tampaknya proses skripsinya sedikit terganggu karena pikiran-pikiran yang tak diinginkan ini. Alia berusaha kembali memusatkan perhatiannya pada skripsi.
Dua minggu kemudian kabar yang dinanti Alia akhirnya datang dari Pak Ari. Kak Bayu meminta link Facebook milik Alia. Dengan perasaan gembira Alia segera mengirimkan link akun facebook miliknya . Pada hari itu juga Alia menerima request friend dari Kak Bayu. Sebenarnya sejak sebelum pertemuan Alia sudah tahu link facebook milik Kak Bayu, tentu saja Alia mencarinya dengan teliti di google, karena tampaknya Kak Bayu tidak mempublikasikan facebook miliknya, begitupun Alia. Jadi tidak mudah bagi orang untuk mencari link facebook milik Alia.
Setelah menemukan akun facebook milik Kak Bayu tentu saja tidak membuat Alia segera memintanya menjadi teman. Alia merasa tidak pantas dan merasa seperti menjadi perempuan genit yang tak tahu sopan santun bila ia berinisiatif duluan. Alia pun segera menerima Kak Bayu menjadi teman di facebook.
Alia mencari tahu isi facebook Kak Bayu sampai ke halaman paling bawah dimana sejak pertama kali dia membuat akun facebook. Walaupun tidak mungkin bisa langsung menilai seseorang hanya dengan melihat isi facebook, paling tidak sedikit banyak Alia dapatkan info mengenai Kak Bayu. Jika dilihat dari status-statusnya tampaknya dia seorang yang humoris dan statusnya pun cenderung mengenai kata-kata mutiara para tokoh Islam, hadits dan ayat-ayat al-Quran. Bagi Alia ini adalah nilai tambah walaupun mungkin tampak sepele, tetapi bagi Alia dengan menggunakan social media untuk berda’wah, itu artinya dia mengisi waktu untuk menulis status yang bermanfaat dan tidak sia-sia. Status-status yang berisikan da’wah Islamiyah menurut Alia secara tidak langsung akan dibaca dan sedikit banyak mempengaruhi para pembacanya. Walau sedikit, tetapi paling tidak ada kontribusi da’wah di dalamnya.
Setelah satu hari berlalu sejak Alia menerima permintaan Kak Bayu menjadi teman, tidak ada kemajuan apapun. Tidak ada pergerakan darinya. Dan sekali lagi Alia mencoba membuka halaman facebook Kak Bayu sekedar ingin melihat apakah ada status terbaru darinya. Ternyata nihil.
Dalam hatinya ia sadar tidak seharusnya dia berfikir banyak mengenai diri Kak Bayu, padahal belum tentu dialah orang yang akan mengimami diri Alia kelak. Alia khawatir pikiran-pikiran ini hanyalah kicauan syaithan di dalam dada yang seolah meneriakkan namanya terus menerus hingga mengganggu rutinitasnya sehari-hari. Alia ingin segalanya berkah sejak dimulainya pertemuan itu. Tidak ada campur tangan hawa nafsu di dalamnya. Tetapi dalam perjalanannya, diri Alia mulai terbuai untuk terus memikirkannya. Walaupun sesekali Alia mampu menghalaunya.
Pada keesokan harinya, Alia memberanikan diri untuk menyapanya lewat facebook.
“Syukran sudah di add,”
Hanya sepenggal tulisan itu yang Alia tuliskan di halaman facebook milik Kak Bayu. Alia berharap dia bisa merespon dalam waktu dekat. Jika tidak, mungkin Alia tidak akan melanjutkan perkenalan ini. Setelah beberapa jam kemudian, Kak Bayu merespon.
“Sama-sama Dik.. Apa Kabarnya?
Alia pun membalas,
“Alhamdulillah baik.. Gimana dengan Kakak?”
"Alhamdulillah..Baik jg..Skripsinya da slese? Kapan sidangnya Dik??"
Deg! "Apa yang harus Alia jawab ya?" Pikir Alia "Sebenarnya skripsinya sedang terganggu Kak. Mana mungkin aku menjawab seperti itu." Akhirnya Alia menjawab, "InsyaAllah targetnya maret ini sidangnya Kak." Sebenarnya Alia sendiri tak dapat memastikan apakah ia sanggup menyelesaikan semuanya pada bulan maret. Itu artinya hanya tinggal beberapa minggu lagi.
Kak Bayu pun menjawab, "Semoga dimudahkan dan dilancarkan prosesnya serta diberikan hasil yang terbaik ya..,"
Alia pun mengaminkannya.
Maret pun datang, cuaca tidak menentu. Kadang panas, kadang matahari sangat terik dan pananya tak tertahankan, dan kadang dingin karena hujan. Tapi Alia tak memperdulikan semua itu, yang sangat ia pedulikan saat ini adalah skripsi! Momok paling menakutkan dan menyebalkan bagi para mahasiswa akhir semester. Banyak yang rajin dan menyelesaikan skripsinya dengan lancar walau banyak yang mengeluh tentang dosen pembimbing yang banyak maunya. Banyak juga yang tampaknya santai-santai saja dalam menyelesaikan skripsinya. Banyak juga yang malas.
Sedangkan Alia?
Alia berusaha keras untuk menyelesaikannya. Tapi dia memiliki masalah serius dalam mengolah dan menganalisa data. Datanya pun selalu tidak valid. Salah satu variabelnya menjadi masalah paling sulit untuk diselesaikan. Terkadang semangatnya surut ketika pikirannya buntu. Jika sudah buntu, sudah menjadi kebiasaannya untuk mendiskusikannya dengan Ayahnya. Untuk menghindari stres akibat buntu dalam menyelesaikan, yang terpikir olehnya adalah ingin duduk bersama orang tua dan membicarakan hal-hal menarik. Maka semangat Alia akan kembali. Dan Alia pun kembali ke habitat meneruskan skripsi.
Kak Bayu meminta untuk diadakan pertemuan lagi. Kali ini orang tua Alia tidak akan ikut menemani dari jauh. Karena tempat pertemuannya kebetulan dekat dengan rumah, dan cukup adik kedua Alia yang akan ikut menemaninya
Awalnya belum ada keputusan dimana tempat pertemuan, karena Kak Bayu mengatakan untuk membiarkan Alia yang memilih tempat pertemuan. "Yang dekat dengan rumah adik aja, juga nggak apa-apa". Alia pun berdiskusi dengan orang tuanya. Akhirnya Alia memilih untuk bertemu di pasar terdekat. Mereka berjanji untuk bertemu pada hari sabtu jam sepuluh.
Hari Sabtu pun tiba, Alia dan adik perempuannya pun bersiap-siap. Ada hal lucu sebelum Alia berangkat menuju tempat pertemuan. Ibu meminta Alia untuk merekam orang itu dengan HP secara diam-diam. Alia tertawa geli mendengar permintaan Ibu. Baru ia ketahui setelah tiba di rumah pada hari pertemuan pertama itu, ternyata adik-adiknya iseng memotret Kak Bayu secara diam-diam dan mengirimkannya pada Ibu yang sedang menunggu di suatu tempat bersama Ayah. Dan tanpa Alia ketahui juga ternyata Adik-adiknya yang nakal bersms ria dengan Ayah dan Ibu mengabarkan tentang apa saja yang dibicarakan dan lain-lain. Hal lucu yang tidak bisa ia lupakan adalah saat Adiknya diam-diam memotret Kak Bayu, kamera Hp miliknya berbunyi. Adiknyalupa untuk mengubah setting suara kamera. Suasana sempat aneh, dan Kak Bayu menyadari bahwa dirinya sedang dipotret. Alia segera menutup mulut dengan tangan menahan tawa. Kak Bayu melihat ke arah adiknya dan.. tertawa. Semua yang hadir pun ikut tertawa. Dia langsung memegang hidungnya menutupi wajahnya.
Alia tertawa geli bila mengingat itu. Alia sempat agak keberatan atas permintaan Ibu. Takut ketahuan lagi seperti pada pertemuan pertama. Setelah sedikit berdebat, Adiknya akhirnya menyetujui permintaan Ibu. Kami pun berangkat. Dalam perjalanan Alia mengirimkan sms menanyakan posisi Kak Bayu. Alia khawatir keterlambatannya membuat Kak Bayu dan mungkin.. teman yang ia bawa menunggu.
"Masih di jalan Dik. Tadi jalanan macet."
"Alhamdulillah, itu artinya aku tidak terlambat", ucapAlia. Tempat pertemuan itu hanya sepuluh menit dari rumahnya. Tak lupa Alia membaca doa dan ayat kursi untuk menghilangkan grogi. Alia berdo'a agar pertemuan ini lancar, dan ia mampu menyampaikan isi pikirannya dengan baik jika ada pertanyaan yang tak disangka-sangka. Kali ini alia merasa sedikit lebih tenang dibandingkan sebelum pertemuan pertama. Entah kenapa, Alia pun tidak mengerti.
Mereka berdua pun tiba di depan pintu pasar dan dari kejauhan Alia melihat Kak Bayu berjalan mengitari pasar. Dia datang berdua dengan teman yang berbeda.
(bersambung)
Sampe berapa episode kah..?
ReplyDeleteEmpat.
Delete