Skip to main content

Jafril Khalil Author of Jihad of Islam Economic

"Kemiskinan seolah menjadi keniscayaan bagi masyarakat Indonesia, khususnya umat islam. Ironi kemiskinan di negeri yang konon kaya akan berbagai macam sumber daya alam ini, kian menjadi. Ketimpangan ekonomi semakin melebar, jumlah anak putus sekolah kian melimpah, pengangguran stagnan diangka 9% (belum ada penurunan signifikan), gelandangan makin merajalela dan memenuhi sesak dikota-kota besar, bahkan angka kematian bay9i masih tergolong tinggi diakibatkan kurang gizi. Lantas apa yangtelah dilakukan pemerintah untuk mengentaskan permasalahan rakyatnya? Sudahkah pemerintah melaksanakan amanat yang tertuang dalam konstitusi bahwa rakyat miskin dan anak-anak terlantar diurus dan dipelihara oleh negara?

Dalam konteks ini, penulis merasa tergerak hatinya untuk menuangkan gagasannya dalam berperan serta menanggulangi kemiskinan di Indonesia dengan menuliskan sebuah buku yang mengelaborasi tema "jihad" ekonomi dalam memerangi keiskinan. Dalam pandangan penulis, hanya ekonomi islam yang bisa dijadikan sebagai tools dalam menyelamatkan umat islam Indonesia dari kemiskinan. Ekonomi Islam bukan hanya sebatas alternatif, malainkan solusi dari sistem kapitalisme atau sistem ekonomi manapun yang selama ini demikian diagung-agungkan oleh barat, namun "karir"nya tengah diujung tanduk akibat krisis.

Maka inilah saatnya bagi ekonomi Islam untuk tampil memainkanperan sentral dalam mengelola dan mengajarkan bahwa berkegiatan ekonomi itu tidak melulu harus culas demi menumpuk kekayaan, tapi menafikan orang lain. Aspek keadilan (al-'adalah) dan nilai fairness (transparansi) yang sesuai dengan maqhasid al-syariah inilah yang menjadi fundamental ekonomi Islam sehingga tidak akan ada tipu daya, praltik riba, dan bahkan ketimpangan ekonomi."

Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...