Ingatkah kita angan-angan di atas? Bisa jadi itu adalah salah satu dari sekian banyak angan-angan yang kita impikan tatkala menginjak umur lima atau enam tahun silam,
namun pantaskah saat ini kita berangan-angan seperti itu lagi?
Dengan pertimbangan ini, tidak ada salahnya jika seorang manusia saling berbagi satu sama lain. Meskipun hanya sebatas untaian kata, akan tetapi makna dan tujuan yang diharapkan di balik semua itu serasa cukup untuk menyadarkan diri kita bahwasannya hidup itu harus diwarnai dengan tolong menolong.
Singkat kata; sebagaimana dia bisa, mereka bisa, maka saya dan anda juga harus bisa. Dengan mengucap bismillah, bukalah lembaran-lembaran kertas ini dan persiapkan diri anda untuk mewujudkan angan-angan anda; yaitu: “..Andai aku bisa menulis..”. Insya Allah, Selamat membaca…
Calon sang penulis besar itu adalah ANDA.
Pernakah anda berpikir menjadi seorang penulis buku, karya ilmiah atau minimal menulis kisah hidup anda sendiri? meskipun belum, hal itu bukan merupakan dinding penghalang bagi anda untuk mulai memikirkannya.
Perlu anda ketahui, bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini adalah calon penulis besar, dan ia tetap akan menyandang gelar calon penulis besar selama ia tidak pernah mau mencoba untuk menulis. Idealnya, setiap manusia yang diciptakan mampu untuk menulis. Sedangkan anda adalah salah satu dari sekian banyak manusia, dan anda juga terlahir melalui proses yang sama dengan manusia lainnya. Oleh karena itu, anda juga berhak mendapatkan gelar calon sang penulis besar tersebut. Begitu juga halnya dengan saya, dia dan mereka. Kita semua adalah para calon penulis besar.
"Perlu anda ketahui, bahwa setiap manusia yang dilahirkan ke muka bumi ini adalah calon penulis besar, dan ia tetap akan menyandang gelar calon penulis besar selama ia tidak pernah mau mencoba untuk menulis."
Mengapa anda harus menulis?
Alasan mendasar yang mengharuskan anda menulis adalah karena anda telah ditakdirkan terlahir ke permukaan bumi ini sebagai seorang manusia.
Sebagai makhluk sosial, manusia tentunya tidak ingin kehilangan interaksi dengan lingkungannya. Maka dengan posisi tersebut, ia berusaha untuk saling bertukar informasi antara satu individu dengan yang lainnya. Perangkat yang mereka gunakan dalam pertukaran informasi pun sangat variatif; bisa via lisan, tulisan atau dengan isyarat. Begitu juga dengan informasi yang mereka sampaikan, dapat mengandung unsur negatif atau unsur positif. Perseteruan kedua unsur ini acap kali melahirkan ‘embrio’ persaingan antara individu-individu yang berkepentingan, sehingga masing-masing akan berusaha untuk mempertahankan unsur tersebut sesuai dengan kepentingan mereka masing-masing. Yang mana, kepentingan tersebut dapat bersifat personal, grup atau bahkan sampai kepada kepentingan religius.
Pada akhirnya, keadaan ini memaksakan kedua belah pihak untuk mempertahankan informasi yang ingin ia sebarkan. Salah satu caranya adalah dengan memilih perangkat terbaik yang dapat menyalurkan informasi yang akan ia sebar luaskan, dan bukan hanya itu saja; bahkan mengabadikan informasi tersebut agar tidak punah ditelan masa. Adapun perangkat yang mampu menyalurkan sekaligus mengabadikan informasi itu adalah tulisan. Dengan kelebihannya ini lah banyak orang menggunakan tulisan sebagai media transportasi arus informasi berupa ilmu pengetahuan antar zaman. Tulisan telah membawa ilmu pengetahuan melintas jauh mengarungi dimensi waktu, guna menyambung jurang pemisah antar peradaban manusia.
Singkatnya; kalau anda merasa diri anda adalah seorang manusia, maka anda harus melakukan apa yang harus dilakukan layaknya seorang manusia
.
Siapakah yang menggantikan peran anda..?
Berapa banyak anda mendapatkan para pembela kebenaran yang membawa kebenaran pergi bersamanya menuju tempat peristirahatannya, alias liang kubur? Dan berapa banyak pula anda dapatkan pembela kebatilan yang mengabadikan kebatilan mereka lewat tulisan?
Pedih rasanya jika kebenaran yang seharusnya menguasai dunia ini mesti kalah dengan kebatilan akibat kebenaran tersebut terkubur bersamaan dengan hilangnya para pembela kebenaran.
"Tulisan telah membawa ilmu pengetahuan melintas jauh mengarungi dimensi waktu, guna menyambung jurang pemisah antar peradaban manusia"
Jawabannya adalah tulisan anda sendiri. Terus, bagaimana tulisan bisa menggantikan peran anda? Caranya adalah: uraikan tulisan tersebut sehingga ia menjadi huruf-huruf yang anda kenal. Kemudian jadikanlah huruf-huruf itu memancarkan nilai kehidupan, sehingga apabila hidup anda berhenti, maka merekalah yang akan menggantikan peran anda selanjutnya.
Pernahkah terbesit di pikiran anda untuk berguru langsung kepada Rasulullah saw? Mustahil memang. Tapi apakah anda tidak merasakan bahwa dakwah-dakwah Rasulullah saw terasa masih menggema lewat sabda-sabda beliau yang terabadikan lewat tulisan? Inilah yang dimaksud dengan “tulisan menggantikan peran anda". Boleh jadi anda tidak dapat menyampaikan kebenaran ke seluruh pelosok dunia, akan tetapi dengan bantuan tulisan, harapan tersebut bisa saja dicapai. Sangat disayangkan apabila kebenaran yang anda bawa hanya cukup untuk menyelamatkan orang-orang yang mendengar langsung dari diri anda menggunakan telinganya. Jika anda juga merasakan hal itu, maka mulailah untuk menjadikan tulisan sebagai rekan anda dalam menyebarkan kebenaran .
"Uraikan tulisan tersebut sehingga ia menjadi huruf-huruf yang anda kenal. Kemudian jadikanlah huruf-huruf itu memancarkan nilai kehidupan, sehingga apabila hidup anda berhenti, maka merekalah yang akan menggantikan peran anda selanjutnya"
Tulisan adalah cermin pikiran anda.
Pernahkah anda bercermin? Apa yang anda lihat tatkala anda sedang bercermin. Tentunya tatkala itu anda sedang memperhatikan anatomi tubuh anda. Kurus kah? Gemuk kah? Atau segudang question mark lainnya akan hinggap di pikiran anda seketika itu juga. Begitu juga halnya dengan tulisan; apabila cermin anda fungsikan sebagai alat untuk melihat anatomi tubuh anda yang dihasilkan melalui proses pemantulan cahaya, maka tulisan mempunyai fungsi unik sebagai alat untuk melihat anatomi pikiran melalui proses perekrontuksian kata-kata, bersumber dari sinyal-sinyal informasi yang malang-melintang dalam pikiran anda.
Oleh karena itu, anda tidak perlu takut untuk menulis sebagaimana anda tidak perlu takut untuk bercermin. Anda harus siap menerima realita yang ada, dengan jalan mempersiapkan diri untuk membuka jendela perubahan. Logisnya; apabila realitanya anda kegemukan tatkala bercermin, maka anda harus mulai melakukan diet agar penampilan anda lebih ideal. Atau anda kekurusan? maka anda harus mulai dengan menambah porsi makanan yang bergizi sehingga tercapai postur tubuh yang ideal. Begitupula dengan menulis; apabila realitanya pikiran anda yang tertuang dalam tulisan masih belum menyatu dan belum mampu menghasilkan nilai informasi yang ideal, maka anda harus terus berusaha untuk memformulasikan perubahan dengan cara memotivasi diri untuk maju, sehingga keidealisan yang anda harapkan itu dapat tercapai.
Setelah anda termotivasi untuk menulis, itu berarti anda telah mendapatkan sinyal perubahan. Beranikan diri anda untuk menyelam ke dalam alam samudra pikiran yang amat dalam, guna mengambil sebagian dari kandungannya dan tuangkan ke dalam alam nyata dalam bentuk tulisan. Atau dengan ungkapan yang lain; beranikan diri anda untuk melewati mekanisme menulis yang sarat akan proses pengartikulasian keabstrakan pikiran dengan cara membangun sebuah formasi frase sehingga membentuk sebuah kontruksi yang lebih luas dalam bentuk tulisan.
Dengan hal ini, seseorang yang ingin menulis harus memiliki kecerdasan mengorganisir kalimat sesuai jalan pikiran. Sehingga muncullah harmonisasi antara tulisan dan jalan pikiran, yang kemudian mewujud menjadi untaian-untaian kata yang memiliki bobot makna dan kekuatan sangat besar dalam mempengaruhi pembaca tulisan tersebut.
Inilah teori singkat yang membuka cakrawala anda untuk memulai start terdepan dalam menulis. Dan jangan lupa, kalau anda benar-benar ingin menjadi penulis profesional, maka awalilah tulisan anda dengan tiga kata; AKU INGIN MENULIS! Kemudian lakukanlah hal tersebut berulangkali sampai rasa letih menghampiri anda, dan pada akhirnya anda tersadar; bahwa sebenarnya anda mampu untuk menulis sebelum anda menuliskan tiga kata tersebut .
"Kesalahan besar yang paling sering dilakukan mayoritas manusia adalah takut untuk mencoba"
Coba dan perhatikanlah, niscaya anda akan mengetahuinya..
Modal selanjutnya yang perlu anda miliki sebelum menulis adalah; berani untuk mencoba menulis. Kesalahan besar yang paling sering dilakukan mayoritas manusia adalah takut untuk mencoba. Takut untuk mencoba merupakan perasaan yang muncul akibat ketidaksiapan mental menerima hasil yang buruk, alias gagal. Sehingga perasaan tersebut menjadikan seseorang berjalan di tempat tanpa ada hasrat untuk melangkah lebih maju ke depan.
Bebaskan diri anda dari rasa ketakutan yang mengekang anda! Siapakah manusia yang tidak pernah mengalami kegagalan sedikitpun? Dan siapakah yang hanya memiliki kesuksesan? Sukses atau gagal memiliki peluang yang sama dalam diri anda. Sebesar apapun angka persentase keberhasilan yang anda prediksikan, maka hasilnya tetap sama; SUKSES : GAGAL = 50% : 50%. Oleh karena itu, anda jangan tertipu dengan permainan angka persentase, meskipun anda dikatakan 99,99% akan gagal, maka peluang 0,01% pun dapat mengantarkan anda ke pintu kesuksesan, begitu juga sebaliknya. Yang terpenting, kalau tidak SUKSES; ya.. GAGAL. Dan kalau tidak GAGAL, ya.. SUKSES. Simpel kan?.
Tidak ada keberhasilan yang absolut di dunia ini, akan tetapi anda harus berhati-hati dengan kegagalan. Karena kegagalan dapat mencapai peluang 100% apabila anda tetap pada pendirian anda untuk tetap tidak mau mencoba. Pernahkah anda melihat orang yang mengendarai sepeda motor? Andaikan pengendara motor terus tidak pernah mau untuk mencoba bertaruh antara ia berhasil mengendarai motor atau ia akan jatuh dan terluka, maka peluang yang ia dapat untuk berhasil mengendarai motor sama dengan 0%, dan yang ia dapatkan adalah kegagalan 100%. Dan anda bisa menganalogikan contoh ini di dalam kehidupan anda sehari-sehari.
So.?, karena gagal atau suksesnya seseorang dapat diketahui setelah melakukan percobaan, maka tidak ada salahnya jika anda memberanikan diri untuk mencoba. Jika anda mengalami kegagalan, maka camkanlah dalam diri anda bahwa kegagalan adalah resiko yang wajar dalam sebuah percobaan. Solusinya adalah; teruslah mencoba sampai kegagalan itu bosan menghampiri anda. Dan jika anda meraih kesuksesan, maka camkanlah dalam diri anda bahwa kesuksesan tersebut anda peroleh setelah anda bertaruh dengan kegagalan.
Akhirnya…
Pada dasarnya, berbicara masalah tulis-menulis adalah berbicara masalah yang sangat sederhana. Modalnya hanya sebatang pena dengan secarik kertas. Akan tetapi masalahnya adalah; maukah anda memulainya atau tidak? Just it.
Terkadang manusia menjadi lemah di saat ia kehilangan tujuan. Hal ini disebabkan karena ia tidak tahu apa yang akan diperjuangkan, sehingga rasa ragu yang timbul dalam dirinya mengalahkan segala potensi yang dititipkan Sang Khaliq semenjak ia menginjakkan kaki di dunia ini.
Kaitannya dengan anda, sebagai seorang muslim seharusnya anda telah memiliki tujuan yang sudah sangat tepat dan jelas, Ibtigha`a mardhatillah, tidak ada tujuan akhir yang lebih besar dan mulia dari pada yang satu ini. Jadikan tujuan ini sebagai alat pemicu potensi yang saat ini sedang tidur dalam diri anda. Buang perkataan “bisakah saya?” jauh-jauh sebelum ia memperbudak anda. Dan jangan lupa! Untuk mencapai tujuan yang sedang anda rintis mulai saat ini, dibutuhkan cara. Tujuan serta cara untuk mencapai tujuan, haruslah sama baiknya, apabila tujuan baik didapatkan dari cara yang salah maka perbuatan anda akan sia-sia. Dan apabila cara yang baik digunakan untuk mencapai tujuan yang salah maka anda akan menyesal.
Pada akhirnya, hal ini semua kembali kepada diri anda. Dengan mengharap ridho Allah, mulailah dari sekarang juga, jangan tunggu jarum detik berdetak lebih jauh lagi meninggalkan diri anda dalam keadaan di mana diri anda sendiri tidak mengharapkannya,..
Semoga tulisan ini bermanfaat bagi ikhwah-ikhwah al-ahibba`……wassalam
Para penulis lintas sejarah…….
Tahukah anda bahwa manusia yang paling produkif dalam hal tulis-menulis berasal dari kalangan muslim?
- Abu al-wafa `Ali ibn `Aqil al-Baghdadiy al-Hanbaliy, salah satu ulama kenamaan bermadzhab Hambali ini lahir pada tahun 431 H dan tutup usia pada tahun 513 H. Ia memiliki sekitar dua puluh karangan, dan karangannya yang paling terbesar berjudul "al-Funun". Kitab ini terdiri dari 800 jilid membahas tentang berbagai disiplin ilmu, nasehat-nasehat yang mengandung faidah sangat banyak, kisah-kisah perdebatan beliau dan berbagai hasil-hasil pemikiran yang pernah beliau dapatkan semasa hidupnya. Imam Dzahabi, seorang pakar sejarah dan tokoh Islam berujar: "Belum pernah ada buku yang ditulis setebal ini didunia."
- Abu al-`Abbas Ahmad bin `Abdilhalim ad-Dimisyqiy al-Hanbaliy, yang terkenal dengan sebutan "Ibn Taymiyyah", lahir pada tahun 661 H dan tutup usia di umurnya yang ke-67 tahun 728 H. Ia salah seorang ulama terkemuka diseluruh disiplin ilmu, memiliki sekitar ratusan karangan, bahkan sangat sulit untuk mengumpulkan dan menghitungnya, mulai dari risalah singkat sampai kitab-kitab yang terdiri dari puluhan jilid. Ibnu Rajab pakar tokoh ulama-ulama bermadzhab Hambali berkata: "Adapun karangannya (Ibn Taymiyyah) telah memenuhi kota-kota, dan telah melampaui batas maksimal, maka tidak mungkin bagi seorang pun untuk mengumpulkannya."
- Abu al-Fadhl Jalaluddin `Abdurrahman bin Kamaluddin al-Khudhairiy as-Suyuthi al-Mishriy asy-Syafi`iy, lahir pada tahun 849 H dan tutup usia pada tahun 911 H. Salah satu ulama Islam terkemuka, memiliki karangan di seluruh disiplin ilmu. Bahkan karangan-karangan beliau merupakan rujukan utama disetiap disiplin ilmu yang beliau tulis. Beliau pernah bertekad untuk tidak meninggalkan satu disiplin ilmu pun kecuali ia memiliki karangan terkemuka di dalamnya. Terkenal dengan kecepatannya dalam menulis dan mengarang. Najmuddin al-Ghazziy berkata: "Sungguh kecepatannya dalam menulis dan mengarang merupakan salah satu tanda-tanda besar dari ayat-ayat Allah Ta`ala."
"Ilmu itu ibarat binatang buruan, sedangkan tulisan adalah pengikatnya, maka ikatlah binatang buruan anda dengan tali yang kuat, karena sesungguhnya hanyalah orang bodoh yang berburu rusa kemudian melepaskannya begitu saja dikeramaian."Penulis: Awang Muda Satria
Comments
Post a Comment