Skip to main content

Aku Kagum Padanya : Mulianya dia sebagai Muslimah

Islam sangat memuliakan perempuan. Al-Quran pun memaparkan tentang seorang perempuan yang terdapat dalam surat An-Nisa. Banyak Hadits-hadits juga yang membahas segala aspek terkait dengan perempuan.

Allah sangat menjaga kedudukan seorang perempuan. Persamaan gender antara perempuan dan laki-laki yang diagung-agungkan media barat justru merusak kaum perempuan. Bila telah rusak seorang perempuan, maka rusaklah suatu negara. Sangat disayangkan mereka kaum perempuan itu sendiri tidak merasakan bahwa indahnya Islam dalam menjaga diri mereka.

Di dalam islam, wanita di perintahkan oleh Allah untuk menutup Aurat. Sungguh aurat adalah sesuatu yg mahal harganya, akan dijaga bahkan disimpan dan di rawat dengan sangat hati- hati dan di hadiahkan pula tempat  teraman dan terbaik. Sebagaimana intan berlian, Apakah pernah kita melihat seseorang membuang intan begitu saja di jalanan?

"Apabila seorang isteri telah mendirikan sholat lima waktu dan berpuasa bulan Ramadhan dan memelihara kehormatannya dan mentaati suaminya, maka diucapkan kepadanya: Masuklah Surga dari pintu surga mana saja yang kamu kehendaki."
(Riwayat Ahmad dan Thabrani)

Salah satu kemudahan yang diberikan Allah pada perempuan. Dengan memelihara kehormatan dan mentaati suaminya, maka ia dapat masuk ke dalam pintu syurga mana saja yang ia sukai. Mudah bukan?

Ingin kuceritakan, bahwa aku kagum pada manusia yang dikenal dengan sebutan perempuan. Lebih spesifik lagi, dia adalah seorang perempuan yang beragamakan Islam. Dalam bahasa arab perempuan yang memeluk agama Islam disebut Muslimah. Ingin kuuraikan beberapa kehebatan seorang muslimah yang kuimpikan aku bisa menjadi seperti dia.

Seorang muslimah yang baik dan benar-benar dalam beragama akan berusaha mempertahankan izzahnya demi kebaikan dirinya sendiri. Dia menjaga dirinya dari hingar bingar duniawi yang godaannya tiada tara. Dia menjauhkan diri dari pergaulan bebas yang menghantarkan ia pada kemaksiatan. Dia tepis cinta palsu sebelum datang waktunya untuk mencintai seseorang.

Dia berkeyakinan bahwa semua itu akan membawanya pada kebaikan dunia dan akhirat. Dia juga berkeyakinan akan mendapatkan pasangan yang juga menjaga dirinya dari perbuatan di luar hukum Allah sesuai janjiNya, di mana perempuan yang baik akan mendapatkan lelaki yang baik, begitu pun sebaliknya.

Memilih pasangan untuk menyempurnakan setengah dari agama ini tidaklah selalu mudah. Semuanya tergantung takdir yang Allah tetapkan pada tiap insan. Karena, untuk menetapkan hati memberikan dan mempercayakan seluruh hidupnya untuk seseorang tak pernah ia kenali, disinilah beratnya sebuah keputusan. Karena pernikahan bukan hanya keindahan dan saling cinta mencintai. Tetapi, pernikahan adalah perjuangan hidup bersama, sarana da'wah, sarana belajar memahami satu sama lain, sarana menahan egoisme, sarana belajar ilmu agama yang mungkin masih minim, sarana mencetak generasi terbaik.

Bila telah ia pilih sang pangeran, maka selanjutnya Allah akan menurunkan amanah, yaitu anak-anak. Sejak dulu pun ia bercita-cita melalui pernikahan ini untuk melahirkan generasi yang menegakkan kalimat La ila ha illallah. Menjadi madrasatul ula yang mampu mencetak khalifatu fil ardh, generasi yang mengamalkan ajaran Illahi. Ia juga ingin menggembirakan Rasulullah SAW untuk memperbanyak ummatnya.

Maka demi mencapai semua ini, perbaikan diri terus dia lakukan. Dia tahu, dirinya masih banyak kelemahan. Dengan keadaan iman yang naik dan turun ia terus berusaha agar ia mampu memegang amanah dalam hidupnya sebagai muslimah dalam kehidupan sosialnya, amanah sebagai anak perempuan dari ayahnya, amanah sebagai istri dari suaminya dan ibu dari anak-anaknya.


Aku hanya menuliskan beberapa hal tentang dia yang kukagumi. Masih banyak dan luas tentang hebatnya dia sebagai muslimah. Semoga aku dapat menuliskannya di lain waktu.

Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...