Skip to main content

Mengayakan Diri kita untuk Menguasai Dunia

Life inspired today, "Mengayakan diri untuk kuasai dunia". Kalimat ini kudapatkan dari pengajian rutin minggu pagi di rumah tetangga, yang seperti biasa guru sekaligus Ayahku tercinta, Ustaz Jafril sebagai narasumbernya. Dari kalimat itu aku ingin menguraikan buah fikiranku dalam blogku yang tercinta ini.

Kini walau Ummat Islam sudah hampir mencapai setengah isi dunia, tetapi tetap negara-negara yang menguasai seluruh bidang yang paling mencolok adalah kafir. Walaupun kini kita dapat mendengar bahwa Iran sebagai negara dengan teknologi nuklir yang canggih, tetapi mereka pun masih dicibir oleh sebagian negara muslim sendiri karena pemahaman mereka yang kebanyakan menyebut mereka sebagai golongan sesat, yakni "syiah". Aku bukannya ingin membahas keyakinan yang mereka miliki. Tetapi yang ingin kutekankan adalah, betapa hebatnya bila negara bertitle "penduduk muslim" yang menguasai semua bidang seperti perekonomian, ilmu alam, geografis, teknologi dan lain-lain.

Faktanya, kalau dilihat dari negara Indonesia saja sebagai contoh terdekat, penduduk muslimnya adalah mayoritas. Adalah yang merupakan mayoritas ini termasuk kelompok orang-orang miskin. Misal saja di Jakarta, contoh yang lebih sempit lagi, dulunya hampir seluruh aset di Jakarta adalah milik orang-orang Muslim. Tetapi kian hari, semakin modern nya segala fasillitas kehidupan penduduk Jakarta, justru orang-orang kafirlah yang semakin berkuasa. Hampir seluruh aset di jakarta dimiliki oleh orang kafir. Dan ditambah sekarang terpilihnya wakil gubernur kafir yang ironisnya justru dipilih oleh ummat Islam sendiri.

Karena itulah di tanah jakarta ini banyak tempat-tempat maksiat dan yang membuat kita menyia-nyiakan waktu. Mall-mall, cafe-cafe, pub, club-club malam dan lain-lain. Untuk beberapa alasan tempat-tempat seperti mal dan cafe masih wajar dibangun misal untuk belanja keperluan dan sebagai tempat pertemuan.

Aku membayangkan seandainya ummat islam yang membangun mal itu, yang kubayangkan adalah suasana yang syahdu dengan lantunan ayat-ayat suci al-quran atau nasyid, lalu poster iklan yang dipasang tidak ada unsur wanita dan pornografi, yang ada hanyalah hiasan kaligrafi bertuliskan Allah, Nabi Muhammad dan ayat-ayat al-Quran dan hadits, orang-orang di sekitar kita hanyalah orang-orang yang menutup auratnya. Sungguh aku merindukan suasana seperti itu. Tetapi suasana ini hanya bisa didapatkan di Mekkah dan Madinah. Sementara cafe, aku bayangkan adalah bebas dari asap rokok, bebas dari orang-orang berpacaran, atau anak-anak muda urakan yang sia-sia menghabiskan waktu nongkrong bersama teman-temannya.

Kalau orang-orang kafir yang menguasai suatu negri, maka hal-hal yang kita lihat sekarang inilah yang terjadi.
Poster wanita setengah telanjang bebas bertebaran, ayat-ayat setan (lagu) berkumandang, aurat wanita dapat terlihat dengan mudahnya, orang-orang bebas berpacaran dan lain-lain dimana hal-hal tak wajar dapat kita saksikan.

Karena itulah kita sebagai kaum muslimin seharusnya memiliki tekad untuk memperkaya diri kita agar bisa menguasai dunia.  Dengan kekayaan, ummat Islam dapat berbondong-bondong mendirikan mesjid, membagi rata kekayaannya pada yang membutuhkan, untuk zaman modern ini, maka dapatlah dibangun mal bernuansa Islam, perkantoran yang bernuansa islam, perumahan atau apartemen yang bernuansa islam, dan lain-lain. hhh.. dunia akan sangat damai dan syahdu, hukum berdasarkan islam, perekonomian berasaskan Islam dan lain-lain. InsyaAllah aku yakin dunia ini aman dengan segala sesuatunya mengikut quran dan sunnah mengikut zamannnya.

Justru ummat islam sekarang ini pada kenyataannya dipandang sebagai orang-orang kumuh dan terbelakang. Mereka tinggal di gang-gang kecil dan kumuh. Memang kita harus hidup sederhana, dan tidak berlebih-lebihan. Tetapi untuk menjaga dignity di hadapan orang kafir, kita seharusnya menunjukkan bahwa kita kuat. Kekuatan yang dapat kita miliki salah satunya dalam pandanganku adalah karena usaha kita dalam bekerja dan memperkaya diri. Lalu kekayaan itu dibagi rata pada ummat muslim lainnya agar mereka pun dapat hidup berkemampuan yang membuat orang-orang kafir ciut di hadapan kita.

Banyak yang kutemukan dan juga bahkan dikenal orang Islam sebagai orang peminta-minta. Contohnya saja berkeliaran orang-orang yang "katanya" dari rumah yatim piatu Yayasan bla..bla.. yang notabene merupakan yayasan Islam, meminta sedekah sana sini , dengan gaya kumuhnya. Sungguh tak mencerminkan Islam sama sekali. Dan contoh lainnya yang mengiris hati, banyak sekolah-sekolah Islam yang cenderung meminta dana dari orang tua untuk mengadakan acara. Padahal belum tentu semua orang tua mampu untuk dapat ikut berkontribusi memberikan dananya. Bukannya aku menjelek-jelekkan, tetapi faktanya membuat aku sedikit terpanggil untuk ikut membahasnya. Seandainya sekolah itu dimiliki oleh orang Islam yang kaya, pasti yang terjadi justru sekolah banyak memberikan pada murid-muridnya, bukannya sebaliknya. 

Contoh saja seperti Rasulullah SAW. Rasulullah SAW memang hidup dalam kesederhanaan, tetapi beliau adalah seorang pedagang yang ulung dan terkaya di Mekkah apalagi saat beristrikan Khadijah wanita terkaya di Mekkah. Abu bakar pun adalah orang yang kaya begitu pula beberapa sahabat Rasulullah SAW lainnya, dengan kekayaan itulah yang membuat mereka mampu mengusir yahudi dari kota Madinah. Sehingga kaum yahudi terpinggirkan.

Bukankah Rasulullah SAW mengajarkan untuk memberi daripada meminta-minta? Bukankah lebih baik tangan di atas daripada tangan di bawah?

Ada sebuah kisah, suatu hari ada pengemis yang tampaknya masih memiliki tenaga untuk bekerja, lalu ia mengemis pada Rasulullah SAW. Di hari itu Rasulullah SAW memberikan sedikit hartanya, lalu pada hari berikutnya pengemis tersebut meminta lagi, bukannya langsung memberi, Rasulullah SAW justru menyuruhnya untuk bekerja mencari kayu di hutan untuk dijual. Rasulullah SAW lebih menyukai orang yang berusaha dengan keringatnya sendiri daripada meminta-minta pada orang lain.

Maka alangkah baiknya, jika Ummat Islam lah yang sepatutnya banyak berkontribusi di negri atau bahkan dunia ini, agar dapat menguasai semuanya dan menebarkan kebaikan. Ironisnya, ummat muslim sendiri justru berbangga dengan kekuatan yang dimiliki orang-orang kafir tersebut. Misalnya saja, film-film hollywood yang memang penggemarnya bertebaran di seluruh dunia, termasuk ummat islam sendiri, bahkan dipuja-puja. Bukankah itu artinya kita malah membanggakan orang-orang kafir itu? Padahal kita diajarkan untuk tidak membuang-buang waktu pada hal yang sia-sia. Alangkah baiknya jika film-film bernuansakan Islam yang terkenal dan dicintai dunia. Karena lewat itu kita pun dapat berda'wah.


Sekali lagi aku membayangkan seandainya di zaman ini banyak para pengusaha muslim atau profesi lainnya yang membuat mereka menjadi kaya , hingga mereka mampu membeli tanah di jakarta ini, maka jakarta atau bahkan seluruh Indonesia, bahkan dunia dapat sepenuhnya dimiliki oleh orang-orang muslim yang taat pada Allah dan RasulNya. Dunia pun tenteram.

Tentunya, tak cukup hanya dengan kaya dan bertitle muslim. Keimanan seorang muslim harus dipupuk sejak awal, karena walaupun dia adalah seorang muslim, tanpa keimanan yang terjadi pun hanyalah kerusakan. Maka jika seorang anak manusia memiliki kekayaan Iman yang diimbangi dengan kekayaan harta akan sangat hebat dunia ini jika dipenuhi oleh manusia-masnusia seperti ini.

hmm.. mimpi hanyalah mimpi, tetapi aku berharap suatu hari nanti hal ini menjadi kenyataan. Boleh kan..?? Amin Ya Rabbal 'Alamin.



Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...