Skip to main content

Pengalaman Ruhani Bag-I



Tak bisa Aku lupakan sedetikpun kenanganku selama menginjak tanah suci umat Islam. Mekkah dan Madinah. Sungguh pengalaman yang begitu berharga dan penuh kenangan. Rasanya ingin Aku lebih lama lagi tinggal disitu dan sepuas-puasnya menikmati kedekatanku pada Yang Maha Pencipta. Pertama kali aku melihat ka'bah saat berumur 9 tahun, dimana aku belum mengerti dunia sepenuhnya. Tapi, umur yang belia itu sudah dapat kurasakan betapa Allah Maha Besar. Pertama kali melihat Ka'bah serasa ada magnet yang menarikku untuk lebih mendekat dan menyentuhnya. Kegembiraan yang tiada terkira ketika Aku mengitari rumah Allah itu. Tak dapat Aku ungkapkan perasaan yang bergejolak di dada.
 Di tahun ini 2011, Aku sangat bersyukur sekali lagi Aku diberi kesempatan untuk bertemu dengan Rumah Allah itu sekaligus Kota Nabi ,yakni Kota Madinah.

Perjalanan ruhaniku bersama keluarga kali ini di bawah bimbingan Travel dari Al-Azhar. Jika Aku boleh menilai, bimbingan umrah bersama itu  membuat sedikit tidak nyaman. Agaknya kebiasaan orang Indonesia itu melakukan do'a bersama-sama dan dibimbing oleh Ustaznya. Padahal akan lebih nikmat dan terasa khusyuk bila dilakukan sendiri. Tapi Aku mengerti dengan adanya Ustaz pembimbing, akan memudahkan bagi jamaah yang betul-betul belum mengerti dan linglung dalam melaksanakan ibadah umrah mupun haji

Aku ingin menceritakan secara detail perjalananku sejak di bandara Soekarno Hatta hingga aku kembali lagi ke Indonesia.

Untuk urusan pembayaran dan pendaftaran Aku belum sepenuhnya mengerti, semuanya diurus oleh Abi dan dibantu oleh kawan Beliau. Dua bulan sebelumnya Abi sudah memberikan kabar baik ini pada Kami. Beliau juga menanyakan kesiapan kami untuk menempuh perjalanan suci ini. Karena menurut beliau, hati ini haruslah bersih sebelum bertemu dengan Allah. Kita harus menyiapkan batin dan fisik untuk menemui Allah apalagi berkunjung ke RumahNya Yang Agung. Awalnya sebelum keputusan final, ada beberapa masalah yang datang. Tapi tampaknya setelah beberapa waktu kemudian, masalah itu dapat kami selesaikan dan akhirnya keputusan final kami pun menyatakan akan berangkat menuju tanah suci. Sebulan sebelumnya hatiku sudah dag dig dug  tidak menentu. Aku merasa seperti akan bertemu sang kekasih yang sudah lama tidak Aku temui.
Sampailah di hari H nya, kami tiba di Bandara Soekarno Hatta dengan pakaian berwarna putih dan mengenakan pernak-pernik yang diberikan AlAzhar agar mereka dapat mengenali Kami sekeluarga. Siang menjelang sore kami bersama-sama menuju  di ruang tunggu keberangkatan. Setibanya disana, muncul masalah yang tidak aku sangka-sangka. Tas travel yang kami miliki, dimana nggak kami letakkan di bagasi pesawat dilarang oleh staff Garuda untuk dibawa ke tempat duduk penumpang. Isi tas serombongan tentu saja barang2 keperluan selama perjalanan panjang menuju Jeddah. Kalau kami sendiri berisi pakaian Ihram dimana Abi dan saudara lelakiku harus berihram setibanya di Miqat Qarnul Manazil. Banyak Orang Indonesia saat ini berpendapat Yalam lam atau Jeddah termasuk Miqat. Makanya tidak semua rombongan kami membawa pakaian ihram untuk dibawa ke bagian penumpang. Hanya Kami sendiri yang berpendapat bahwa Miqat Qarnul Manazillah Miqat yang sah.

Abi protes terhadap staff pesawat, krna barang yang kami bawa benar-benar diperlukan dan tidak ada jalan lain kecuali harus membawanya. Masalah ini muncul karena tempat duduk kami di lantai 2 pesawat. dan bagasi atas di lantai 2 ukurannya kecil daripada biasanya. Karena tas travel kami yang ukurannya melebihi kapasitaslah  alasan staff Garuda melarangkami untuk membawanya. Awalnya beberapa orang tampak mengalah mengeluarkan satu persatu baang mereka. Tapi Abi tidak mau dam saja mengikuti aturan begitu saja dan melihat keberanian Abi akhirnya beberapa orang dalam rombongan kami ikut protes. Abi tak mau menyerah, dan tetap bersikeras untuk membawa koper berisi pakaian Ihram tersebut. Umi berbisik-bisik kecil dan mengelus sedikit lengan Abi, membujuk Abi untuk mengecilkan suara. Karena tampaknya tidak ada reaksi positif dari staff Garuda, akhirnya dengan kekuatan penuh Abi melipat koper berbahan kain yang cukup besar itu menjadi ukuran kecil. dan memang tampak kecil. Aku tersenyum geli melihat ide brilian Abi. ^_^. Kami sekeluarga pun tersenyum geli dan menjadi bahan pembicaraan selama menunggu. Akhirnya dengan berat hati si staff menerima nya. Kami berhasil melewati ujian pertama ini.. hehe.. Aku nggak tau ini ujian menahan amarah atau ujian menghalangi rintangan?

Akhirnya kami duduk menunggu di ruang tunggu hingga maghrib menjelang. Kami dan jemaah-jemaah lainnya shalat berjama'ah. Tapi berbeda kelompok. Aku shalat bersama keluargaku. dan yang lainnya shalat bersama rombongan mereka . Ada yang membuat saf baru di bagian lain ruangan itu. Setelah itu kami langsung bersiap-siap menaiki pesawat. Hatiku berdebar-debar. Saat aku menulis ini pun masih terasa debaran yang menggerogoti dadaku hingga rasanya sekujur tubuhku terasa dingin karena rasa rindu yang membuncah di dalam dada.

Satu rombongan kami mendapat tempat di lantai 2 kabin penumpang . Ini pertama kalinya pula aku menaiki pesawat berlantai 2. Segala puji bagi Allah perjalanan kami lancar dan mungkin cuaca terkadang sedikit berubah dan agak menggoyangkan pesawat. Selama perjalanan aku tidur dan terkadang membaca mushaf. Kebetulan tempat dudukku sebaris dengan 2 orang TKI yang baru saja pulang berlibur. Maksudku,  mereka baru saja kembali ke Indonesia dan perjalanan kali ini mereka akan kembali ke Arab Saudi. Salah seorang dari mereka mengikuti hari liburan majikan Beliau. Majikannya adalah satu keluarga arab dengan wajah campuran cina Aku tidak tau pasti keluarga itu keturunan cina atau Arab? Karena wajah mereka seperti campuran.  Aku banyak bertanya tentang keluarga majikan Ibu ini. dan Aku mendengarkan cerita Beliau dengan seksama. Setelah aku mendengar ceritanya,bukan lagi hal yang mengejutkan mengetahui kebiasaan orang arab.

Comments

Post a Comment

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...