Skip to main content

Sang Kandidat (Lanjutan dari Cerbung Romantika Hidup seorang Muslimah)

5 maret 2013,

Sudah satu tahun berlalu sejak berakhirnya ta'aruf antara Alia dan lelaki itu. Pengalaman terbesar yang Alia alami ini tak sedikitpun membuat dirinya jatuh terjerembab sebagaimana pemuda pemudi yang saling jatuh cinta dan galau yang tak berkesudahan saat cinta tak berbalas. Bagi Alia sungguh Allah Maha Indah dengan segala perencanaanNya. Kini jika mengingat setahun yang lalu saat proses perkenalannya dengan Bayu, senyum simpul terkadang terukir di bibir Alia. Alia merasa yakin ia akan menemukan tambatan hati yang jauh lebih baik untuknya. Hanya saja Allah menentukan bahwa Alia belum pantas untuk bisa bertemu dengan dia yang terindah.

Kini Alia menyadari betul bahwa hidup tidaklah selalu berjalan sesuai dengan keinginan. Selama ini, Alia selalu mendapatkan kesenangan dan kasih sayang sepanjang hidupnya. Tak pernah ada kasus besar yang menimpa pribadi Alia secara personal. Bagi Alia pencarian jodoh merupakan hal terbesar dalam hidupnya terutama sebagai seorang perempuan, karena konsekuensi atas pilihan hidup akan menentukan kebahagiaan untuk kehidupannya di dunia ini maupun akhirat kelak.

Sejak itu pulalah Alia mulai semakin membenahi diri untuk menyiapkan dirinya dengan matang agar ia siap menjadi istri dari seorang lelaki yang selalu ia impikan, seseorang yang tak lupa selalu ia ungkapkan dalam setiap doanya.

Dimulailah episode kehidupannya tentang proses pencarian teman sejati. Satu demi satu lelaki berdatangan dan masuk sebagai bagian dari kisah perjalanannya. Belum ada satupun yang Allah kehendaki sebagai pendamping bagi Alia. Bulan demi bulan berlalu. Alia masih merasakan ketenangan meskipun belum juga ia temukan tambatan hatinya, karena ia masih memiliki keyakinan ketetapan Allah itu adalah yang terbaik.

Dalam bulan-bulan yang ia lewati, Alia memperbanyak zikir dan do'a, shalat malam, memperbanyak bacaan motivasi dalam pencarian jodoh yang tak kunjung datang, dan banyak hal lainnya demi menjaga ketenangan hatinya. Karena Alia merasakan betapa sulitnya menjaga ketenangan hati di saat-saat seperti itu. Ia tahu akan ada banyak bisikan syaithan yang membuat ia khawatir tentang jodoh yang mungkin saja tidak akan pernah ia temukan.

Di antara semua lelaki yang pernah muncul itu menambah pengalaman dan pemahaman Alia tentang sebuah proses dalam setiap hidup manusia. Ada hamba-hambaNya yang Allah mudahkan ia dalam menjalani proses menuju hasil yang ia harapkan.Ada yang Allah beri ia batu-batu kerikil dalam perjalanannya menuju hasil yang ia inginkan. Ada juga yang menghadapi kesulitan-lesulitan yang membuat ia bertahun-tahun tak juga mendapatkan hasil yang ia harapkan. Tetapi bagi Alia kesulitan-kesulitan itu bukanlah berarti Allah dengan sengaja memberlakukan kesulitan pada hamba-hamba yang Dia berikan kesulitan padanya. Tetapi sepatutnya berbahagialah wahai manusia yang merasakan sulitnya sebuah proses, karena Allah sedang menginginkan agar hamba tersebut terus berdo'a dan bertawakkal, siang malam terus memohon dan beribadah padaNya tanpa henti untuk mengharap kemudahan dari Allah. Allah ingin agar hambaNya dekat kepadaNya.

"Sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat," QS: Al-Baqarah : 214

Bukan ketidakadilan yang sedang berlaku terhadap hamba tersebut. Cara pandang ini menurut Alia salah. dan kehidupan di dunia ini semua kesulitan adalah ujian, semua kesenangan pun adalah suatu ujian. Karena hasil sesungguhnya yang akan manusia raih hanyalah di akhirat kelak. Jika tidak ingin menghadapi kesulitan maka satu-satunya cara adalah dengan tidak berbuat apapun. Dengan tidak berbuat apapun sama saja dengan manusia yang hidup tanpa ruh, dengan kata lain seolah ia hanyalah mayat hidup.

Sudah setahun berlalu sejak akhir dari perkenalannya dengan Bayu, sesungguhnya Alia melihat Ibu masih belum bisa melupakan perbuatan Bayu terhadap putri kesayangannya. Tetapi Ibu tidak mau mengakuinya. Ketika Alia menanyakan perihal ini, Ibu hanya tertawa sambil meledek Alia.

"Ahh.. pasti kamu juga belum bisa lupain kan?"

"Kalau Alia sih udah nggak merasakan apa-apa lagi Bu.. Orang kaya gitu ya berarti bukan tipe Alia banget gitu lho..."

"Udah...jujur aja..."

"Serius deh bu... Biasa aja tuh sekarang," Alia pun ikut tertawa. " Ibu ni.. yang masih belum bisa lupakan.. Habisnya ngeledekin dia terus sih."

"Nggak ah. ngapain Ibu ingat-ingat. Tu kan buat ledekin kamu aja. Hahaha.."

Begitulah Ibu. Dan beberapa kali menyebut kekecewaannya terhadap orang itu. Tetapi Alia memang benar-benar telah melupakan rasa sakit saat akhir dari perkenalannya dengan Bayu. Alia tak habis pikir mengapa ada orang yang tak bertanggung jawab terhadap sebuah masalah yang menurut Alia jika dia seorang lelaki yang gentleman pasti dia akan menghadapinya dengan baik. Dan jika pada akhirnya dia tidak sreg untuk memilih Alia sebagai istrinya, dia bisa menyampaikannya dengan baik-baik kepada Alia. Dia hanya mendiamkan masalah tersebut dan menjauh tanpa memberi kabar apapun. Permintaan maaf pun tak pernah terucap darinya terhadap orang tua Alia. Maka sejak itu pulalah Alia mengerti dalam mencari jodoh, sebelum Allah satukan dua insan tersebut, maka berusahalah untuk tidak memunculkan rasa cinta yang berlebihan, karena syaithan akan dengan senang hati bermain dan membisikkan hal-hal yang membuat orang itu galau dan memikirkan hal yang tak seharusnya dia pikirkan.

Ketika seseorang sedang melakukan ta'aruf, saat ia tertarik pada orang yang menjadi lawan ta'arufnya maka sudah pasti akan memunculkan sebuah rasa. Karena dengan rasa itulah yang akan menghantarkan ia pada kata meminang hingga ia menikahi orang pilihannya. Hingga perasaan cinta pun muncul dengan begitu besar saat tangan telah bersentuhan di antara pasangan yang telah Allah satukan ini.

Akan tetapi dalam menjaga rasa yang sudah muncul saat masih dalam proses perkenalan agar tidak berubah menjadi sebuah cinta yang dalam, adalah sebuah hal yang sulit untuk dilakukan. Karena itulah memohon pertolongan Allah dalam proses pencarian jodoh adalah hal yang paling utama dilakukan. Karena hati setiap manusia hanya Allahlah yang mengaturnya. Jika seseorang telah memiliki rasa pada pilihannya, hingga saat Allah telah sandingkan ia dengan pilihannya maka rasa syukur yang tak terhingga akan dia rasakan jika hanya Allah yang menjadi tujuan pernikahannya. Dan sebaliknya, jika tidak Allah takdirkan ia untuk menjadi pendamping bagi seseorang yang telah ia inginkan menjadi pasangannya, maka rasa syukur jugalah yang seharusnya dirasakan orang tersebut. Karena sebuah keyakinan bahwa Allah itu pasti akan memberikan yang terbaik akan memberikan ketenangan batin kepadanya.

Kini umur Alia telah mencapai 23 tahun. Alia fokus pada pekerjaan yang sedang ia tekuni. Saat ini yang dia pikirkan adalah bagaimana agar bisa membahagiakan kedua orangtuanya.

Suatu malam saat Alia makan bersama orang tua dan adik-adiknya, Ayah menyampaikan bahwa ada seseorang yang ingin berkenalan dengan Alia. Alia tersenyum manis seperti biasanya. Kali ini Alia tidak lagi terlalu memikirkan apa lagi cerita baru yang akan ia hadapi.

"Siapa namanya yah?"

"Namanya Ayah lupa nanti Ayah tanya lagi. Dia temennya teman kamu. Siapa tu namanya yang sedang belajar juga di Malaysia. Satu kampus dengan adikmu"

"Oo.. si Ramdan. Kawan dia Yah?"

"Katanya senior dia di sana. Ayah minta orang itu kirimkan dulu CV nya."

"Semoga aja pilihan Ramdan cocok ya yah. Haha.."

Semuanya tertawa mendengar kalimat ini. Ayah pernah mengatakan bahwa Ayah pernah menyampaikan pesan pada Ramdan untuk mencarikan jodoh buat Alia. Alia yakin tidak mungkin Ramdan sembarang memberikan seorang kandidat menantu untuk putri dosennya. Tapi tak pula Alia sangka bahwa Ramdan benar-benar melaksanakan pesan dari Ayahnya. Pembicaraan pun terhenti sampai disitu. Sedangkan Alia tidak pula terlalu memikirkan siapakah gerangan yang akan dikenalkan Ramdan pada dirinya. Alia hanya berharap kali ini semoga Allah mudahkan perkenalannya dengan sang kandidat.






Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...