Skip to main content

My Life is Completed With You by My Side (Bag: Hari Pernikahanku Tiba)

Dan hari ini, tanggal 29 maret 2014, hari yang kunantikan telah tiba.

Pagi ini, perasaanku tak menentu. Mondar mandir aku mencari barang-barang yang akan diperlukan di acara nanti siang dan akan berlangsung hingga malam. Bagaikan di dalam mimpi aku sibuk menyiapkan segalanya. Rasanya seperti mengawang-awang dan segala gerak gerikku terasa bagaikan di kontrol oleh seseorang dari kejauhan. Aku tak percaya hari ini telah datang. Hari ini, jantungku terus berdegup kencang.

Aku dan keluarga berangkat menuju gedung 3 jam sebelum acara. Sesampainya aku dan keluarga disana, bergegas aku menuju ruang rias pengantin dan bersiap untuk dirias. Aku hanya bisa duduk di ruang rias dan dirias oleh make up profesional dari sanggar Komalahadi, sementara saudara saudariku, tante dan sepupu-sepupuku mondar mandir di luar. Entah apa saja yang mereka lakukan, aku tidak tahu. Siapa yang terlambat datang dan siapa saja yang sudah datang pun aku tidak tahu menahu. Tak pula kutanyakan pada seorangpun. Tak pula aku ingat untuk peduli pada siapa saja yang datang. Yang kupikirkan saat itu hanyalah diriku yang sebentar lagi akan bersanding dengan pria istimewa itu.

Waktu acara pun tiba, yang sebelumnya suasana ruangan di luar terdengar sayup-sayup banyaknya orang, mendadak diam dan seolah tak seorangpun bergeming. Lalu terdengar dengan keras suara MC memulai acara. Aku hanya bisa mendengarkan dari dalam ruangan. Sementara aku masih dirias oleh mbak Vani dari sanggar Komalahadi. Hasil riasannya sungguh membuatku terpukau. Aku sendiri tak percaya orang yang berada di dalam cermin itu adalah diriku.  :)

Setelah beberapa rangkaian acara yang tampaknya berjalan lancar, sementara aku masih di dalam ruangan, Umi Abi dan Penghulu masuk ke dalam ruang rias. Dan aku diberikan sebuah microphone dan mengucapkan beberapa patah kata memohon doa restu pada umi abi dengan dibimbing oleh Ustaz penghulu. Sungguh aku tidak ingat sedikitpun kalimat apa saja yang meluncur dari mulutku. Yang kuingat hanyalah hatiku yang masih berdegup kencang, Abi dan umi yang mengusap air matanya, sementara pikiranku masih blank dan linglung. Aku tak menyadari apa saja yang telah kuucapkan. Setelah itu Umi, Abi dan Ustaz penghulu keluar diikuti oleh Cameraman.

Tibalah waktunya bagi beliau, calon suamiku mengucapkan kalimat Ijab kabul. Terdengar suara penghulu memberikan arahan, dan kalimat yang suamiku ucapkan sungguh lancar dan suaranya mantap terdengar. Sementara suara Abi pun terdengar mantap mengucapkan kalimat Kabulnya. Kini telah bertukar statusnya menjadi suami untuk diriku. Sungguh tak bisa aku berikan gambaran betapa bahagianya diriku. Telah sah diriku menjadi istri dari seorang Awang Muda Satria. :) Alhamdulillah..

Aku pun dijemput oleh dua adik perempuanku menuju tempat dimana suamiku berada. aku berjalan diapit oleh dua adik perempuanku. Selama berjalan, tak berani aku untuk melihat dirinya. Mataku hanya berpendar ke arah para hadirin yang menyaksikan hari bahagiaku. Aku melihat kawanku sharah dan wike, aku melihat guru-guruku terhebat, tante-tanteku tercinta dan sepupu-sepupuku. Aku tidak tahu apakah suamiku melihat diriku selama aku berjalan menuju tempat duduknya.

Kini tak ada penghalang antara diriku dan dirinya. Hanya sejengkal jarak antara diriku dan dirinya. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Alhamdulillah.. Hari itu aku begitu mensyukuri ni'mat Allah yang begitu sempurna dalam memberikan kebahagiaan pada hambaNya. Suamikupun menyerahkan maharnya dan aku menciumi tangannya. Tangan seseorang yang akan kupatuhi seumur hidupku, Imamku, Kekasih yang kucintai dan kubahagiakan selama nafas masih memberikan waktu untukku di dunia ini. Tangannya yang besar dan hangat, membuatku merasakan bahwa dialah pelindungku, pemberi kebahagiaan bagiku dan imamku yang insyaAllah telah Allah pilihkan untukku di dunia ini, dan aku berharap akupun menjadi permaisuri baginya di akhirat kelak.

Suamiku, semoga aku mampu menjadi istri baik dan sholehah untukmu. Mentaatimu sepenuh hati, bersabar mengikuti jejak langkahmu dalam perjuanganmu, mampu menjadi penenang dirimu di saat kau bersedih, tempat kau mencurahkan keresahanmu dan aku mampu bersabar dalam segala keadaan, mampu selalu tersenyum untukmu, dan yang terpenting kita bisa hidup dengan selalu mengikuti jalan yang Allah ridhoi.

Suamiku, semoga malaikat-malaikat pun ikut tersenyum pada  kita yang masih tersipu malu pada hari itu, mata yang masih malu-malu untuk saling menatap, dan mereka ikut bertasbih memuji kebesaran Allah atas hari bahagia ini. Semoga Allah memberikan barokahNya untuk kita berdua. :)

Love You Always InsyaAllah (Awang Muda Satria) :)






Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...