Skip to main content

Pengorbanan Akan Menimbulkan Kecintaan, Mencintai Maka Kita Rela Berkorban. Mana Yang benar?

Hari ini, satu hari setelah lebaran id adha, aku masuk ke kantor seperti biasa. Yang tidak biasa adalah aku datang lebih cepat dari biasanya, dan kantor terasa sepi karena banyak yang cuti.  Pagi ini aku mendapat tausiah dari dokter di kantorku. Temanya adalah “Pengorbanan”. Yups!

Hari raya Idul Adha , erat kaitannya dengan kata pengorbanan. Dimana-mana khutbah Id nya pun mengenai pengorbanan. Dari apa yang kuketahui memang sebaiknya khutbah yang disampaikan mencakup seluruh urusan agama. Maka misalnya seperti pada Shalat Idul Adha, khutbahnya berisikan motivasi untuk berkurban dan penjelasan hukumnya. Ayahku pun kemarin menyampaikan tema yang sama saat diminta untuk menjadi Khatib di daerah Pondok Gede. Mudah-mudahan ilmu yang disampaikan para khatib mengenai pengorbanan itu tersampaikan dengan baik kepada para jama’ah yang mendengarkannya. Yang tidak mendengarkan mudah-mudahan Allah masih berikan kesempatan padanya untuk bisa mendengarkan Kalam Allah yang luar biasa.

Sebutlah orang yang menyampaikan tausiah pagi ini sebagai Dokter A. Dokter A menguraikan kisah-kisah dimana Rasulullah SAW dan para sahabat melakukan pengorbanan demi menegakkan agama Islam di muka bumi. Pengorbanan yang mempertaruhkan nyawa, dimana mungkin akan sulit kita temukan atau bahkan tidak mungkin dapat kita temukan orang-orang hebat seperti di masa Rasulullah SAW dan para sahabat.  Juga beliau uraikan kisah yang merupakan menjadi salah satu figur dalam pengorbanan, yakni Habil dan Qabil. Dimana Habil yang dengan ikhlas memberikan ternak terbaik yang ia miliki karena kecintaannya pada Allah, sementara Qabil mempersembahkan tanaman terburuk karena tidak adanya kecintaan pada Allah, maka hilanglah keikhlasan Qabil ketika mempersembahkan tanamannya pada Allah. Dari tausiah yang beliau sampaikan, ada beberapa kalimat yang kugaris bawahi dari pernyataan beliau sekaligus membuatku bertanya-tanya. Kalimat yang kugarisbawahi tersebut adalah bahwasanya, dengan berkorban itu akan menimbulkan kecintaan. Jika pada teoriku sendiri, justru dengan adanya cinta itu maka seseorang akan rela berkorban. 

Menurut teoriku, jika kita mencintai Allah maka kerelaan berkorban itu pasti ada dalam diri setiap manusia. Berkorban menjadi sebagai bukti kecintaan dan kepatuhan kepada Allah SWT. Sebagaimana dalam kisah pengorbanan tentang seorang ayah yang harus menyembelih anaknya. Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s menjadi figur terpenting yang juga wajib diketahui oleh ummat islam. Setelah penantian yang begitu lama untuk mendapatkan keturunan, dan Allah kabulkan dengan melahirkan Nabi Ismail a.s melalui istrinya Siti Hajar, lalu Allah perintahkan Nabi Ibrahim a.s untuk meninggalkan anaknya yang baru lahir dan istri di suatu lembah tak berpenghuni. Dalam kisah lainnya tentang contoh pengorbanan Nabi Ibrahim a.s, setelah Nabi Ismail mulai tumbuh besar  dan bisa membantu ayahnya, Allah perintahkan untuk menyembelihnya. Karena kecintaan Nabi Ibrahim a.s dan Nabi Ismail a.s pada Allah lebih dari apapun, maka mereka berdua mau untuk melaksanakan apa yang diperintahkan Allah. Walau sebagai seorang manusia tentu hal ini menyayat hati Nabi Ibrahim a.s. 

Maka kutanyakan perkataan Dokter A mengenai "pengorbanan itu akan menimbulkan kecintaan", pada salah seorang yang kukenal sebagai orang yang berilmu. Barangkali aku bisa menemukan jawaban yang tepat atas kalimat yang kugaris bawahi tersebut. Jawaban beliau sebagai berikut:

“Kalau berdasarkan ayat yang artinya, “apabila kamu (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku, maka Allah akan mencintaimu dan mengampuni dosamu “. Ayat itu menjelaskan pembuktian cinta kita dengan berkorban dan berusaha melaksanakan sunnah (berkorban untuk agama) sehingga dengan pengorbanan itu kita juga mendapatkan cinta dari hasil pengorbanan yang merupakan bukti kecintaan. Hasil pengorbanan itu adalah Allah mencintai kita dan memaafkan dosa kita.

Kalau yang dimaksud dengan dokter itu, dengan berkorban akan menimbulkan kecintaan dari yang kita berkorban karenanya..ada benarnya juga.. dan kalau maksud kamu kita berkorban karena ada cinta, atau cinta adalah penggerak untuk berkorban, benar juga. Jadi teori kamu dan dokter itu tidak bertentangan, intinya kata dokter, untuk mendapatkan cinta dari sesuatu kita harus berkorban, kata kamu untuk membuktikan cinta kepada sesuatu kita harus berkorban..”

Jawaban yang tidak terpikir olehku. Sungguh sebuah jawaban yang bijak. Semoga Allah memberkahi hari-harimu, itu yang terpikir dalam otakku saat mendapatkan jawaban dari beliau. Aku mendoakannya dari sudut hatiku yang paling dalam, Ustaz Awang Muda Satria.

Demikian tulisan dariku mengenai tausiah yang kudapatkan pagi ini. Semoga bermanfaat.

Comments

Popular posts from this blog

Romantika hidup seorang muslimah part 1 (cerbung)

"Ada yang mau taaruf sama kamu." Deg! Jantung Alia berdegup tak menentu. Ini pertama kalinya dengan resmi ia mendengar kalimat itu dari orang tuanya. Dimana itu artinya memang telah datang waktu baginya untuk diizinkan memiliki pendamping. Alia sangat bersyukur pada Allah, telah Dia datangkan waktu untuknya masuk ke dunia taaruf dan pernikahan. Padahal selama ini dia tidak pernah sama sekali membahas mengenai hal-hal yang berkaitan dengan hubungan laki-laki dan perempuan dengan orang tuanya. "Ayah yang minta tolong dengan Pak Ari untuk ngenalin kamu ke dia. Sebulan yang lalu dia ketemu ayahmu dan Pak Ari. Disitu Pak Ari menyampaikan ke dia mengenai kamu dan mengirimkan foto kamu ke dia. Sebulan kemudian barulah dia merespon." Alia mendengarkan cerita Ibunya yang tampak antusias. "Nanti dia mau langsung ketemu sama kamu. 2 minggu lagi. Siapinlah CV kamu, tukeran CV dulu. " Hatinya berdesir dan degup jantungnya semakin kencang. Tak per...

Romantika Hidup Seorang Muslimah Part 3 (Cerbung)

Mata Alia langsung menangkap sosoknya dari kejauhan. Tetapi Alia tidak berkeinginan untuk datang mendekat. Akhirnya Alia hanya menunggu di dekat pintu masuk pasar bersama Adiknya. Alia menunggu kabar dari Kak Bayu. Ting! "Di Izzi Pizza saja  Ya Dik," "Baik Kak." Alia pun segera menuju lokasi pertemuan. Kak Bayu duduk bersama temannya di sudut Restoran itu. Alia berjalan menuju tempat duduk mereka berusaha keras menekan ekspresi groginya. Alia berjalan tanpa melihat ke arah mereka. Setelah dekat, mereka mempersilakan Alia dan Adiknya untuk duduk. Dan percakapan dimulai dengan pembukaan salam dari Alia, karena tak satupun dari mereka membaca salam ketika Alia dan Adiknya datang. Setelah Alia membaca salam, mereka tersenyum, "Oh iya.., Wa'alaikumsalam. Ah Elu sih!" Kak Bayu mencolek temannya sambil tersenyum malu. Mereka pun tertawa bersama. Adik Alia siap-siap menyalakan telefon genggamnya untuk merekam. Dengan ragu-ragu dia mengelu...

Cerpen:Tolong Aku butuh jawaban

Hari ini pertama kali dia mengatakan kata-kata yang super menyakitkan. Padahal permintaanku simple. Ingin dengar kata, “kamu cantik’. Tapi bahkan sebelum aku mengutarakan keinginanku untuk mendengarkan itu..   Kami mau memulai shalat. Seperti biasa kadang aku suka menggoda dia. Kadang aku iseng supaya bisa dengar dia bilang sesuatu tentangku. Aku menatap matanya.   “Bang.. aku…” menatapnya sambil tersenyum penuh harap dan memicingkan mata dengan manja.   Tiba-tiba dengan wajah yang tersenyum tapi aneh, dia mengatakan”kenapa udah judge duluan kalau nggak bilang?”   Sungguh aku terkejut bukan main.   “Ya udah kalau nggak mau bilang nggak papa.”   “mentang-mentang abang nggak bilang udah di judge duluan.”   meski singkat perdebatan kami, disini aku tidak tahan lagi karena langsung menusuk hatiku. dan dia tidak pernah melakukan ini.   “udah bang, kalau abang ngomong lagi, aku bakal nangis.   Duh , bener aja aku...