Siapapun pasti mengatakan Beliau sosok yang galak dan tegas.
Kharismanya begitu tinggi sehingga membuat orang takut.
Bagiku, Beliau bukanlah menakutkan.
Beliau yang lembut hatinya,
menangis dalam diam bila ada yang tak berkenan dariku dalam kelakuan,
dengan hatinya yang begitu lembut Aku tak berani melangkah ke arah yang salah
Setiap hariku bersamanya jadi semakin berharga
aku semakin tua menuju umur yang cukup naik ke pelaminan
waktuku semakin sempit tebarkan bakti tuk penuhi kewajiban
tapi Aku sebagai manusia pun masih terus berbuat kekhilafan
Ayah,
sosok yang hanya sekali disebut Rasulullah
tak bisa ku ubah pernyataan sang tauladan
Tapi, tetaplah bagiku yang terpenting Kedua orangtua
Mata Beliau yang penuh pengharapan akan kesuksesan anak-anaknya
terkadang tak sanggup tuk aku tatap
Aku takut kegagalan menerpa, hati Beliau sengsara
Tak ingin aku lihat ada air mata di dalamnya
Aku berusaha,
dan berusaha,
dan berusaha,
Beliaulah yang mengajari Tuhanku siapa
Beliau pulalah yang membimbingku kebenaran hakiki itu dari mana asalnya
Hari demi hari beliau contohkan Sunnah Rasul tuk Aku ikuti
terus menerus menuntut ilmu agar Aku pun jejaki,
Menafkahi keluarga tuk beribadah dan kewajiban pun terpenuhi
Mencintai keluarga sepenuh hati tuk keharmonisan walau tak abadi,
Masa-masa kecil Beliau yang tak pernah aku bayangkan bila aku yang mengalaminya
Membuat aku mengerti akan perasaannya yang lembut
Tapi terkadang aku khilaf dan lupa tuk tunjukkan kasih sayangku padanya
Tak ingin aku buat Beliau diterpa kesedihan semacam itu lagi
Beliau sosok yang kukagumi,
Tegas dalam berkata dan berbuat,
menantang perbuatan yang tak Allah sukai,
menjaga perbuatan baik dan ikuti Sunnah Nabi
Marah ketika melihat hal yang jauh dari ajaran Illahi
Hidup Beliau sepenuhnya dikorbankan untuk yang terkasihi
Setengah dari hidup Beliau dihabiskan tuk kesejahteraan kami
Ayah cintamu yang luas seluas langit begitu meresap ke dalam relung hatiku
Aku banyak belajar darimu.
Aku mencintaimu
02/02, in ma room
Kharismanya begitu tinggi sehingga membuat orang takut.
Bagiku, Beliau bukanlah menakutkan.
Beliau yang lembut hatinya,
menangis dalam diam bila ada yang tak berkenan dariku dalam kelakuan,
dengan hatinya yang begitu lembut Aku tak berani melangkah ke arah yang salah
Setiap hariku bersamanya jadi semakin berharga
aku semakin tua menuju umur yang cukup naik ke pelaminan
waktuku semakin sempit tebarkan bakti tuk penuhi kewajiban
tapi Aku sebagai manusia pun masih terus berbuat kekhilafan
Ayah,
sosok yang hanya sekali disebut Rasulullah
tak bisa ku ubah pernyataan sang tauladan
Tapi, tetaplah bagiku yang terpenting Kedua orangtua
Mata Beliau yang penuh pengharapan akan kesuksesan anak-anaknya
terkadang tak sanggup tuk aku tatap
Aku takut kegagalan menerpa, hati Beliau sengsara
Tak ingin aku lihat ada air mata di dalamnya
Aku berusaha,
dan berusaha,
dan berusaha,
Beliaulah yang mengajari Tuhanku siapa
Beliau pulalah yang membimbingku kebenaran hakiki itu dari mana asalnya
Hari demi hari beliau contohkan Sunnah Rasul tuk Aku ikuti
terus menerus menuntut ilmu agar Aku pun jejaki,
Menafkahi keluarga tuk beribadah dan kewajiban pun terpenuhi
Mencintai keluarga sepenuh hati tuk keharmonisan walau tak abadi,
Masa-masa kecil Beliau yang tak pernah aku bayangkan bila aku yang mengalaminya
Membuat aku mengerti akan perasaannya yang lembut
Tapi terkadang aku khilaf dan lupa tuk tunjukkan kasih sayangku padanya
Tak ingin aku buat Beliau diterpa kesedihan semacam itu lagi
Beliau sosok yang kukagumi,
Tegas dalam berkata dan berbuat,
menantang perbuatan yang tak Allah sukai,
menjaga perbuatan baik dan ikuti Sunnah Nabi
Marah ketika melihat hal yang jauh dari ajaran Illahi
Hidup Beliau sepenuhnya dikorbankan untuk yang terkasihi
Setengah dari hidup Beliau dihabiskan tuk kesejahteraan kami
Ayah cintamu yang luas seluas langit begitu meresap ke dalam relung hatiku
Aku banyak belajar darimu.
Aku mencintaimu
02/02, in ma room

Comments
Post a Comment